Kisah Shohabiyah: Fathimah az-Zahra (1)

fatimah-az-zahra

Mengenai Fathimah az-Zahra. Sebenernya siapa sih? Seberapa penting kita mengetahui tentangnya? Ya, mungkin itu yang ada di pikiran mereka yang baru mendengar dan tidak tahu sama sekali tentang Fathimah az-Zahra. Namun sebagai kaum Muslim, sebagai umat Muhammad Saw. Kita harus mengetahuinya. Kenapa? Karena salah satu cara untuk mencintai Rasul kita adalah dengan mempelajari dan mengetahui seluk beluk Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya. Karena dengan hal ini akan menambah kecintaan kita kepada beliau dan keluarganya.

Fathimah az-Zahra atau Fathimah binti Muhammad, dari nama itu kita bisa memahami bahwa ia adalah putri dari Nabi Muhammad Saw. Fathimah lahir di Ummul Qura (Makkah), 5 tahun sebelum Nabi diutus menjadi rasul yaitu saat orang-orang suku Quraisy memperbaiki  Kakbah. Jadi dalam sejarah, Kakbah itu pernah terkena banjir dan beberapa bangunannya rusak sehingga diperbaiki.

Dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya, Fathimah berada di lingkungan yang bersih, penuh iman, berkah dan bimbingan Allah. Yaitu di mana lagi kalau bukan di rumah ayahnya, Nabi Muhammad Saw. Saai itu ia adalah putri terkecil Nabi. Kakak-kakaknya, seperti Zainab dan Ruqayyah sudah menikah. Kemudian dari ayahnya, Fathimah belajar semua akhlak mulia. Dari ibunya yaitu Khadijah, Fathimah belajar kejernihan pikiran yang tidak dimiliki wanita lain. Jadi ia mendapat siraman cahaya kenabian, cahaya Islam langsung dari ayah dan ibunya.

Sementara kita tahu bahwa ayahnya adalah seorang Rasul, manusia terbaik sepanjang masa dan ibunya adalah Ummul Mukminin dan wanita paling agung se-jagat raya pada masanya. Bahkan dalam hadits riwayat An-Nasa’I dikatakan: Jibril berkata: “Sesungguhnya Allah menyampaikan salam kepada Khadijah.” Subhanallah! Jadi Khadijah itu mendapat salam dari Allah Swt melalui malaikat Jibril.

Khadijah menumpahkan semua kasih sayang kepada Fathimah. Oleh karena itu Fathimah disusui oleh ibunya sendiri dan tidak dicarikan ibu susuan. Maksudnya apa? Jadi bayi pada jaman dulu itu disusukan oleh ibu lain, namanya ibu susuan. Seperti Rasul yang juga pernah disusui oleh Halimah as-Sa’diyah. Bahkan Halimah berkata bahwa dia bersama sejumlah wanita dari bani Sa’ad kala itu berangkat untuk mencari anak susuan. Dan Makkah adalah awal tempat dipertemukannya antara Halimah dan Nabi yang saat itu masih bayi. Sayangnya, Wanita dari Bani Sa’ad menolak untuk membawa dan menyusui Nabi karena memang Nabi yatim. Mereka khawatir tidak mendapat imbalan dari ayah bayi yang mereka susui. Namun Halimah tidak mau pulang dengan tangan hampa jadi akhirnya ia menerima bayi Muhammad.

Ok, balik lagi ke kisah Fathimah. Jadi Fathimah itu mewarisi sifat ibunya (meliputi kelembutan, sifat malu, harga diri, kesucian, sifat bijak, tata krama dan sifat baik lainnya). Fathimah tumbuh lebih dewasa dan berwibawa tanpa kehilangan sifat malu. Jiwanya tenang dan tegar. Hatinya bersih. Dan dengan berjalannya waktu ia sadar bahwa dirinya adalah anak dari seorang manusia paling mulia yaitu Rasul. Maka Fathimah pun tumbuh menjadi remaja putri terbaik.

Iklan

Penulis: Siti Muhaira

Ana Muslim, lahir di Kota Hujan pada bulan Muharram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s