Menyikapi Perang Antara Dua Kubu Capres dan Pertandingan Sepak Bola

Piala Dunia dan Pilpres 2014

Ya, sungguh ironi memang menyaksikan begitu banyak orang yang berlebihan dalam mendukung capres pilihannya. Kenapa berlebihan? Ya, coba lihat sendiri. Pendukung dari capres satu misalnya sampe berantem dengan pendukung capres lain. Bahkan saling mengejek, mengolok dan mencaci maki. Mencari celah-celah kesalahan lawannya. Nggak mau kalah. Pokoknya dia anggep yang paling bener itu ya capres pilihannya.Padahal kan belum tentu kalau capresnya itu baik dan layak menjadi pemimpin. Emang dia nilai dari sisi apanya sih? Sampe segitu ngebela capres pilihannya.

Dan soal berantem tadi, ini adalah masalah yang emang buah dari tidak diterapkannya sistem Islam. Orang-orang tidak mengkaji dan mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan ia sehari-hari. Tidak memahami hakikat menghargai orang lain. Tidak tahu bagaimana adab yang santun ketika berbicara. Tidak mengerti atau bahkan tidak tahu bahwa adanya larangan untuk mengidolakan orang lain secara berlebihan bahkan sampai memujanya. Naudzubillah! Malah dia bisa dikatakan tidak memiliki adab jika sampai berprilaku seperti tadi yang saya sebutkan. Begitu juga dengan para suporter sepak bola. Juga sama. Terlalu fanatik dengan satu klub sepak bola hingga memandang remeh klub sepak bola yang lain. Bahkan sampe terjadi kerusuhan, antar suporter saling lempar, tawuran, perang. Padahal cuma karena ngga terima lawannya yang menang. Ya harusnya sih sadar dan udah tahu kalau di setiap pertandingan apa pun pasti ada yang menang dan yang kalahnya.

 

Masih inget nggak, kasus antara sepak bola Indonesia dan Malaysia. Duh, pas pertandingan lagi berjalan itu ada kembang api di lapangan. Beuh! Ada-ada aja! Nggak tahu siapa yang ngelempar! Tapi masalah kayak gini itu justru makin merusak hubungan Indonesia dengan Malaysia. Udah permasalahan TKI ditambah masalah pertandingan sepak bola. Kesannya, Indonesia sama Malaysia itu udah kayak musuh bebuyutan. Padahal kan sama-sama bersaudara. Nah, dari kasus-kasus kayak gini itu bisa muncul penyakit hati. Sakit hati, dendam, meremehkan orang lain dll. Kalau umat Muslim sampe kayak gini wah ini udah gawat lagi. Dosa nggak? Ya iya! Rasa sakit hati, dendam, marah yang disimpan lama-lama itu nggak baik. Bahkan kita aja dilarang untuk menjadi pendendam. Rasul aja waktu dilemparin batu sama orang kafir, diludahin nggak pernah balas dendam. Nggak pernah bales lempar pake batu yang lebih besar misalnya. Nggak pernah! Malah beliau memberi senyuman dan tetap berbuat baik. Nah, coba kalau kita gimana?

 

Jadi Pamiarsa Muda, berseteru dengan orang lain misalnya kayak kasus pendukung capres dan suporter sepak bola tadi itu nggak baik. Syetan pasti seneng kalau kita tercerai berai, saling berantem. Hati-hati, jangan sampe pahala amalan kita berkurang dan dapet dosa. Umat Muslim akan rugi. Semua dari kita itu adalah bersaudara. Jalinlah persaudaraan yang benar, yaitu ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan antara umat Muslim) yang satu aqidah, satu pemikiran dan satu perasaan berlandaskan Islam.

Iklan

Penulis: Siti Muhaira

Ana Muslim, lahir di Kota Hujan pada bulan Muharram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s