Makalah tentang sifat siang, pembagian siang dan hikmah diciptakannya siang.

 428809_130398197080940_194827715_n

Makalah tentang sifat siang, pembagian siang dan hikmah diciptakannya siang.

Penyusun: Siti Muhaira

Pembimbing: Ust. Rahmatullah Noor Hidayat

 

Muqoddimah

Assalamu’alaikum wr.wb

Segala puji bagi Allah Swt  yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kita. Rasa syukur tak lupa saya ucapkan atas waktu dan kesempatan yang telah Allah Swt limpahkan sehingga saya bisa menyelesaikan tugas makalah ini. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah limpah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Saw.

Dalam makalah ini, saya akan menjelaskan tentang siang. Pembahasan ini meliputi sifat siang, pembagiannya dan hikmah diciptakannya siang. Saya juga mencatumkan beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits sebagai referensi. Karena Al-Qur’an dan hadits adalah sumber yang paling terpercaya dan akurat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.

Allah Swt dengan segala Kesempurnaan-Nya telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Matahari, bulan, bintang dan planet yang menghiasi luar angkasa. Termasuk planet bumi yang kita diami ini. Allah Swt adalah yang mengatur peredaran benda-benda langit, menurunkan hujan ke bumi dan lain-lain. Termasuk yang mengatur siang dan malam.

Allah Swt menggantikan malam dengan siang begitu juga sebaliknya. Hal ini merupakan hal yang sudah sepatutnya kita syukuri. Mengapa? Karena tanpa adanya siang, maka bumi ini gelap dan tak ada cahaya matahari yang menerangi. Hanya ada malam saja. Dan kemungkinan tak ada kehidupan di bumi ini kecuali jika Allah Swt berkehendak. Sebaliknya, jika hanya ada siang, maka bumi ini selalu terang. Cahaya matahari selalu menerangi bumi. Bukan tidak mungkin, panas matahari yang terus menerus bisa membakar isi bumi.

Siang adalah waktu di mana matahari telah terbit. Manusia umumnya melakukan berbagai aktivitas di siang hari seperti bekerja, pergi sekolah dan lain-lain. Tanpa siang, beberapa aktivitas bisa terganggu misalnya menjemur pakaian atau ikan. Sudah sepatutnya kita bersyukur dengan rahmat Allah Swt ini. Semoga isi dari makalah ini menambah wawasan dan meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah Swt. Amiin.

Bab l

Hikmah diciptakannya siang

1. Untuk mencari penghidupan (QS.An-Naba’ [78] : 11)

78:11

Artinya: “Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.”

Dalam tafsir Al-Azhar dijelaskan bahwa ayat ini adalah lanjutan dari ayat sebelumnya (ayat 12 yang artinya: dan Kami jadikan malam sebagai pakaian). Setelah tadi malam beristirahat berlepaslelah, pagi-pagi badan dan jiwa menjadi segar. Setelah terasa segar mulailah bekerja dan bergiat lagiberjalan di atas bumi yang telah terbentang itu mencari perbekalan buat hidup, mencari rezeki, mencarimakan dan minum. Itulah yang dinamai ma’aasya; Penghidupan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin rahimahullahmenjelaskan, “Dan Allah telah menjadikan siang sebagai waktu untuk mencari penghidupan. Manusia mencari rezeki di siang hari sesuai dengan kedudukan dan keadaan mereka masing-masing. Ini merupakan salah satu nikmat Allah atas hamba-hamba-Nya.

Tafsir Jalalain:Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupanyaitu waktu untuk mencari penghidupan. Sedangkan dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini maksudnya Kami jadikan siang itu cerah, terang dan bersinar agar umat manusia dapat pulang pergi untuk mencari penghidupan dan berusaha serta berdagang dan lain sebagainya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa siang itu adalah waktu bagi manusia untuk mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan bekerja. Tentu rezeki yang dicari adalah yang halal.

Dalam sebuah artikel (Sumber:https://www.facebook.com/permalink.php?id=528722540482621&story_fbid=263922553738697) dijelaskan bahwa bagian siang yang paling banyak mengandung berkah adalah pagi harinya. Karenanya, suatu ketika Shahabat Ibnu Abbasradhiyallahu ‘anhumelihat anaknya sedang tidur pagi, maka ia berkata, “Bangunlah, apakah kamu tidur pada waktu disebarkan rezeki?”

Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Bersegeralah dalam mencari rezeki dan kebutuhan (hajat), karena dalam kesegeraan (pergi pagi) itu terdapat keberkahan dan kesuksesan.” (HR. At-Tirmidzi)

Artikel 2 (https://id-id.facebook.com/BerbagiPengetahuanMen/posts/399678353434573):

Siang hari juga sama pentingnya dengan malam hari. Setelah kita beristirahat di malam hari, siang harinya kita menjemput rezekidan melakukan berbagai aktifitas yang bermanfaat, termasuk salah satunya mempelajari ilmu Allah. Dengan beraktifitas, hormon–hormon dapat dilepaskan, sel otot berkembang, jantung meningkat detaknya, darah mengedarkan oksigen, paru-paru membesar, otak belajar banyak, kita berinteraksi sosial, memahami karakter manusia, berkomunikasi, dan lain-lain. Selain itu, di siang hari, kegiatan pertanian dan fotosintesis tumbuhan dapat terjadi.

2. Siang merupakan tanda-tanda Kekuasaan Allah Swt (QS.Fushshilat [41]: 37)

41:37

“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.”

Tafsir Jalalain: Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya) yang telah menciptakan keempat tanda-tanda tersebut (jika kalian hanya kepada-Nya saja menyembah.

Artikel:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَر

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan.”

Allah SWT  memberikan peringatan kepada hamba-hamba-Nya tentang kekuasaa-Nya yang besar. Tidak ada bandingannya.Yakni menciptakan siang dan malam silih berganti dan tidak pernah berhenti. Dan menciptakan  matahari dan  bulan agar dengan perbedaan perjalanannya dapatlahdiketahui kadar waktu malam dan siang, dari jum’at ke jum’at, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Dan akan menjadi jelas pula waktu-waktu untuk melaksanakan hak, ibadah, dan mu’amalah. Dan oleh karena matahari dan bulan itu merupakan benda langit yang terbesar yang bisa disaksikan di langit dan di bumi maka Allah SWT memperingatkan bahwa kedua benda itu tetap berada di bawah kekuasaan Allah Ta’ala. Oleh karena itu janganlah kamu mengagungkan kedua benda itu, tetapi agungkanlah Pencipta-Nya.(http://afiyatul-azkia.blogspot.com/2012/05/makalah-tadrib-kutub-tafsir.html

Jadi, hikmah yang kedua adalah siang itu tanda dari Kekuasaan Allah Swt. Siang merupakan bukti kekuasaan Allah yang tidak ada seorang pun dari makhluk-Nya yang bisa menandingi-Nya.

3. Agar manusia bersyukur (QS. Al-Qashash [28] : 73)

28:73

“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.”

Tafsir Jalalain: Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.

Hikmah diciptakannya siang selain untuk mencari penghidupan, sebagai tanda Kekuasaan Allah juga agar manusia itu bersyukur dengan rahmat-Nya. Bahkan dari ayat di atas manusia memang telah diperintahkan untuk bersyukur. Siang yang digunakan untuk mencari rezeki dan malam untuk beristirahat adalah rahmat Allah Swt yang tak ternilai harganya. Wajib untuk disyukuri. Jika tidak disyukuri maka nikmat dan rahmat itu akan hilang dan dicabut oleh Allah Swt. Sebaliknya,jika disyukuri maka akan bertambah. Firman-Nya:

14:7

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. (QS. Ibrahim [14]: 7)

4. Untuk menjadi pelajaran dan bahan tafakur

25:62

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.(QS. Al Furqaan [25]: 62)

Tafsir Jalalain:

(Dan Dia pula yang menjadikan malam dan siang silih berganti) yakni satu sama lainnya saling silih berganti dengan yang lainnya (bagi orang yang ingin mengambil pelajaran) dapat dibaca Yadzdzakkara dan Yadzkura, yang pembahasannya sebagaimana pada ayat sebelumnya. Yakni, ia ingat akan kebaikan yang tidak dilakukan pada salah satu di antaranya, kemudian ia melakukan pada waktu yang lainnya, sebagai ganti dari apa yang tidak dilakukannya di waktu yang pertama tadi (atau orang yang ingin bersyukur) atas nikmat Rabb yang telah dilimpahkan kepadanya pada dua waktu itu.

Artikel:

Yakni bagi orang yang ingin mengambil pelajaran dan menjadikannya dalil terhadap tuntutan-tuntutan ilahi.Syaikh As Sa’diy rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya hati berubah-ubah dan berpindah-pindah di waktu-waktu malam dan siang hari, terkadang muncul semangat dan muncul pula malas, muncul ingat dan muncul lalai, muncul sempit dan muncul lapang, muncul mendatangi dan muncul berpaling, maka Allah jadikan malam dan siang melewati para hamba dan dan datang berulang-ulang agar muncul ingat dan semangat serta bersyukur kepada Allah di waktu yang lain, di samping itu wirid ibadah berulang dengan berulangnya malam dan siang. Setiap kali waktu berulang, maka muncul bagi hamba keinginan yang bukan keinginan yang melemah di waktu yang lalu, sehingga bertambahlah ingat dan syukurnya. Tugas-tugas ketaatan ibarat siraman iman yang membantunya, jika tidak ada tugas itu tentu tanaman iman itu akan layu dan kering, maka pujian yang paling sempurna dan lengkap atas hal itu adalah milik Allah.”

Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang mukmin mengambil pelajaran dari pergantian malam dan siang, karena malam dan siang membuat sesuatu yang baru menjadi bekas, mendekatkan hal yang sebelumnya jauh, memendekkan umur, membuat muda anak-anak, membuat binasa orang-orang yang tua, dan tidaklah hari berlalu kecuali membuat seseorang jauh dari dunia dan dekat dengan akhirat.

Orang yang berbahagia adalah orang yang menghisab dirinya, memikirkan umurnya yang telah dia habiskan, ia pun memanfaatkan waktunya untuk hal yang memberinya manfaat baik di dunia maupun akhiratnya. Jika dirinya kurang memenuhi kewajiban, ia pun bertobat dan berusaha menutupinya dengan amalan sunat. Jika dirinya berbuat zhalim dengan mengerjakan larangan, ia pun berhenti sebelum ajal menjemput, dan barang siapa yang dianugerahi istiqamah oleh Allah Ta’ala, maka hendaknya ia memuji Allah serta meminta keteguhan kepada-Nya hingga akhir hayat. (http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-furqan-ayat-53-62.html#sthash.V72zuKjo.dpuf)

24:44

Allah mempergantikan malam dan siang.  Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.(QS. An-Nuur [24]: 44)

Tafsir Jalalain

Allah mempergantikan malam dan siang) mendatangkan masing-masingnya sebagai pengganti dari yang lain. (sesungguhnya pada yang demikian itu) yakni pergantian ini (terdapat pelajaran) yang menunjukkan kebesaran-Nya (bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan) bagi mereka yang memiliki penglihatan memandang kekuasaan Allah swt

Bab ll

Sifat Siang

 1. Terang benderang (Surat An-Nazi’at [79] : 29)

79:29

Dalam Tafsir Jalalain:

(Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita) membuatnya gelap (dan menjadikan siangnya terang benderang) Dia menampakkan cahaya matahari. Di dalam ungkapan ini lafal Al-Lail atau malam hari dimudhafkan kepada As-Samaa’, karena malam hari merupakan kegelapan baginya. Dan dimudhafkan pula kepada matahari, karena matahari merupakan cahaya baginya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dia (Allah) menjadikan malam harinya gelap gulita lagi pekat, dan Dia menjadikan siang harinya terang benderang lagi penuh cahaya.

Sedangkan Tafsir Al Azhar “Dan digelapkan-Nya malamnya.” (pangkal ayat 29). Yaitu seketika bumi telah melalui putarannya yang tetap mengelilingi matahari dan matahari dalam garisnya sendiri pula. Maka setelah terbenamlah matahari itu ke ufuk Barat mulailah malam dan timbullah gelap. Cahaya matahari tak ada lagi, “Dan di terangkan-Nya siangnya.” (ujung ayat 29). Maka beredarlah di antara malam dengan siang, menurut perputaran yang tetap dan teratur bumi itu mengelilingi matahari. Di malam hari terasa pembagian waktu sejak senja, lalu hilangnya syafaq yang merah, lalu larut tengah malam, parak siang dan fajar menyingsing dan mulai akan pergi. Siang harinya terasa permulaan pagi, waktu dhuha, waktu tengah hari, ‘Ashar, petang hari dan senja. Jam demi jam, menit demi menit, bahkan detik demi detik berjalan dengan teratur.

40:61

(Surat Al-Mu’min [40] : 61)

“Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”

Tafsir Ibnu Katsir: Waktu siang terang benderang ini adalah berkat adanya matahari yang menyinari bumi, yang digunakan oleh manusia untuk berusaha mencari nafkah, misalnya dengan usaha pertukangan, perdagangan serta merantau dan mengadakan perjalanan dari suatu sudut tempat ke tempat lain.

Tafsir Jalalain: (Allahlah yang menjadikan malam untuk kalian supaya kalian beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang-benderang) dikaitkannya pengertian melihat kepada siang hanyalah majaz atau kata kiasan belaka, karena pada siang hari manusia dapat melihat. (Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur) kepada Allah, malahan mereka tidak beriman kepada-Nya.

92:2

(Surat Al-Lail [92] : 2)

“Dan siang apabila terang benderang”

Tafsir Al-Azhar:“Demi siang, apabila dia terang.”Apabila malam telah habis, fajar mulai menyingsing, kemudian diiringi oleh terbitnya matahari, maka hari pun sianglah. Dalam pergantian siang dan malam itulah manusia hidup, sebagaimana yang telah diterangkan juga pada Surat-surat yang lain.

2. Siang silih berganti dengan malam

3:190

(Surat Ali-Imron [3] : 190)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”

Tafsir Jalalain

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi) dan keajaiban-keajaiban yang terdapat pada keduanya (serta pergantian malam dan siang) dengan datang dan pergi serta bertambah dan berkurang (menjadi tanda-tanda) atau bukti-bukti atas kekuasaan Allah swt. (bagi orang-orang yang berakal) artinya yang mempergunakan pikiran mereka.”

(Artikel dari http://avianinuravivah.blogspot.com)

Dalam ayat 190 menjelaskan bahwa sesungguhnya dalam tatanan langit dan bumi serta keindahan perkiraan dan keajaiban ciptaan-Nya juga dalam silih bergantinya siang dan malam secara teratur sepanjang tahun yang dapat kita rasakan langsung pengaruhnya pada tubuh kita dan cara berpikir kita karena pengaruh panas matahari, dinginnya malam, dan pengaruhnya yang ada pada dunia flora dan fauna merupakan tanda dan bukti yang menunjukkan keesaan Allah, kesempurnaan pengetahuan dan kekuasaan-Nya.

Langit dan bumi dijadikan oleh Al-Khaliq tersusun dengan sangat tertib.Bukan hanya semata dijadikan, tetapi setiap saat nampak hidup.Semua bergerak menurut aturan.Silih bergantinya malam dan siang, besar pengaruhnya atas hidup kita dan segala yang bernyawa.Kadang-kadang malam terasa panjang dan sebaliknya. Saling bergiliran dan saling mengurangi panjang dan pendeknya, kemudian keduanya menjadi sama. Setelah itu, yang ini mengambil sebagian waktu dari yang lain hingga ia menjadi panjang waktunya, yang sebelum itu pendek, dan menjadi pendeklah yang tadinya panjang. Semua itu berjalan berdasarkan pengaturan dari Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

(QS. Al-Furqaan [25] :62)

25:62

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”

Tafsir Jalalain:

yakni satu sama lainnya saling silih berganti dengan yang lainnya (bagi orang yang ingin mengambil pelajaran) dapat dibaca Yadzdzakkara dan Yadzkura, yang pembahasannya sebagaimana pada ayat sebelumnya. Yakni, ia ingat akan kebaikan yang tidak dilakukan pada salah satu di antaranya, kemudian ia melakukan pada waktu yang lainnya, sebagai ganti dari apa yang tidak dilakukannya di waktu yang pertama tadi (atau orang yang ingin bersyukur) atas nikmat Rabb yang telah dilimpahkan kepadanya pada dua waktu itu.

Surat Al-mu’minun [23] : 80

23:80

“Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?”

Tafsir Jalalain

“Dan Dialah yang menghidupkan) dengan meniupkan roh ke dalam Mudhghah atau janin (dan mematikan, dan Dialah yang mengatur pertukaran malam dan siang) malam gelap, dan siang menjadi terang, serta menambah panjang dan mengurangi waktu salah satu di antara keduanya. (Maka apakah kalian tidak memahaminya?) maksudnya memahami ciptaan Allah swt., kemudian kalian mengambil pelajaran daripadanya.”

3. Siang dimasukkan ke malam dan sebaliknya

31:29

(Surat Luqman [31] : 29)

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Jalalain: (Tidakkah kamu memperhatikan) artinya melihat, hai orang yang diajak bicara (bahwa sesungguhnya Allah memasukkan) mempergantikan (malam ke dalam siang dan memasukkan siang) mempergantikannya (ke dalam malam) maka Dia menambahkan pada masing-masing apa yang dikurangi dari yang lainnya (dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing) dari matahari dan bulan itu (berjalan) beredar pada garis edarnya (sampai kepada waktu yang ditentukan) yaitu hari kiamat (dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan).

http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-luqman-ayat-20-34.html

Ayat ini menerangkan Keesaan-Nya dalam mengatur dan bertindak. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan siang ke dalam malam, yakni jika salah satunya masuk maka yang lain pergi. Demikian pula Allah Swt menundukkan matahari dan bulan, keduanya berjalan secara teratur, tidak kacau sejak keduanya diciptakan untuk menegakkan maslahat hamba, baik agama maupun dunia mereka, di mana mereka dapat mengambil pelajaran dan manfaat darinya.

(Surat Al Hajj [22]: 61)

22:61

Tafsir Jalalain:(Yang demikian itu) pertolongan atau kemenangan itu (adalah karena sesungguhnya Allah kuasa memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam) Dia berkuasa untuk memasukkan masing-masing di antara keduanya kepada yang lainnya, yaitu dengan mengembalikan waktu pada salah satu di antaranya. Yang demikian itu merupakan pengaruh daripada kekuasaan Allah swt. yang dengan kekuasaan-Nya itu kaum Muslimin dapat kemenangan (dan bahwasanya Allah Maha Mendengar) terhadap doa-doa kaum Mukminin (lagi Maha Melihat) perihal orang-orang yang beriman, di mana Dia menjadikan iman dalam diri mereka, kemudian Dia memperkenankan doa mereka.

Ada dua pendapat berkaitan dengan tafsir ayat di atas:

Pertama: Bahwasanya Allah memasukkan gelapnya malam ke dalam cahaya siang, dan memasukkan siang ke dalam gelapnya malam. Maka siang dan malam saling isi mengisi secara bergantian. Berdasarkan tafsir ini maka maknanya berlaku umum untuk seluruh malam dan siang.

Pendapat kedua: Apabila siang bertambah maka malam berkurang, malam masuk ke dalam siang, bukanlah hilang sama sekali. Berdasarkan tafsir ini maka yang dimaksud adalah khusus bagi sebagian waktu pada siang atau malam hari selain waktu tengah malam atau tengah hari. Khusus bagi musim-musim tertentu saat malam masuk ke dalam siang dan sebaliknya. Dan hal ini berlaku di sejumlah daerah yang sedang iklimnya, yang mana pertambahan waktu siang tidak lebih dari lima belas jam. Maka berarti waktu malam adalah sembilan jam. Jika lebih dari itu maka iklim di daerah tersebut akan menjadi sangat dingin atau sangat panas, sampai-sampai daerah tersebut tidak akan bisa didiami oleh manusia, tumbuhan tidak bisa tumbuh, tidak terkena sinar matahari dan makhluk hidup tidak bisa hidup karena sangat dingin dan kering.

Demikian pula daerah yang sangat panas dan kering yang merupakan tempat-tempat yang tidak bisa didiami oleh makhluk hidup dan tidak bisa ditumbuhi tanaman. Yaitu daerah yang selalu terkena sinar matahari. Daerah yang paling nyaman adalah daerah yang memiliki empat musim yang datang silih berganti dan terdapat musim peralihan yaitu musim musim gugur dan musim semi.

[Sumber: Keajaiban-keajaiban Makhluk dalam Pandangan Al Imam Ibnul Qayyim, karya Abul Mundzir Khalil bin Ibrahim Amin (penerjemah: Abu Ihsan Al-Atsari Al-Maidani), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Sya’ban 1423 H / Oktober 2002 M, hal. 100-101.]

(Surat Faathir [35]: 13)

 

35:13

Tafsir Jalalain: (Dia memasukkan) Allah memasukkan (malam ke dalam siang) sehingga bertambah panjanglah siang (dan memasukkan siang) (ke dalam malam) sehingga waktu malam bertambah panjang (dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing) dari matahari dan bulan itu (berjalan) beredar pada garis edarnya (menurut waktu yang ditentukan) yakni sampai hari kiamat. (Yangberbuatdemikian itulah Allah Rabb kalian, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kalian seru) yang kalian sembah (selain-Nya) yang dimaksud adalah berhala-berhala (tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari) yakni kulit yang melapisi biji.

 Bab 3

Pembagian Siang Hari

  1. Waktu Dhuha

93:1

Tafsir Jalalain: (Demi waktu Dhuha) yakni waktu matahari sepenggalah naik, yaitu di awal siang hari; atau makna yang dimaksud ialah siang hari seluruhnya.

Tafsir Al-Azhar:“Demi waktu dhuha.” (ayat 1). Di ayat pertama ini Allah bersumpah, tegasnya memerintahkan kita memperhatikan waktu dhuha. Waktu dhuha ialah sejak pagi setelah matahari terbit, sampai naik sampai menjelang tengah hari. Di dalam bahasa Melayu lama disebut “sepenggalah matahari naik.” Apabila matahari telah sampai di pertengahan langit, yang disebut “tengahhari”, waktu dhuha tidak ada lagi.

Terdapat Hadis-hadis yang shahih menganjurkan kita sembahyang sunnah sekurangnya 2 rakaat, atau 4 rakaat, atau sampai 8 rakaat, dua rakaat satu salam pada waktu dhuha itu.

Waktu dhuha diambil persumpahan oleh Tuhan untuk menarik perhatian kita kepadanya. Mungkin oleh karena di waktu yang demikian kita sedang lincah, kekuatan dan kesegaran masih ada berkat tidur yang nyenyak pada malamnya. Maka di waktu Dhuha itulah kesempatan yang baik untuk berusaha di muka bumi Allah, sepanjang yang dianjurkan oleh Allah sendiri.

Artikel: http://agusxv.wordpress.com/2013/01/11/tafsir-surat-ad-dhuha-ayat-1/

“Demi waktu matahari sepenggalahan naik”

Di ayat pertama ini Allah bersumpah atas nama waktu Dhuha. Allah ta’ala boleh bersumpah dengan apa saja tetapi manusia tidak boleh. Sumpah Allah atas suatu waktu menunjukkan keutamaan waktu tersebut. Dhuha adalah waktu permulaan siang saat muncul cahaya yang terang sampai beberapa saat sebelum matahari tepat diatas kepala kita. Dalam keseharian kita waktu dhuha ini beberapa saat setelahmatahari terbit, kira-kira 15 menit setelah terbit.

Di waktu ini Allah memberikan barokahnya bagi orang-orang yang mau berusaha. Seperti telah dimaklumi bahwa rezeki ada di pagi hari, nah pagi hari disini yang dimaksud bukan selepas shubuh langsung mengais rezeki akan tetapi saat matahari telah terbit atau saat dhuha ini. Selepas subuh sebaiknya digunakan untuk berdzikir. Dzikir bukan hanya melafalkan subhanallah, alhamdulillah dan kalimat2 mulia lainnya, termasuk dzikir adalah membaca Al Quran, mendengarkan ceramah pengajian atau murotal, membaca buku agama, menghafal Al Quran atau hadist, dan banyak lagi.

Waktu dhuha atau siang Allah tetapkan untuk mencari rezeki bukan untuk sebaliknya. Jadi sudah diatur bahwa waktu istirahat itu malam hari bukan waktu dhuha atau habis subuh tidur lagi. Memang banyak dirasakan begitu, bahwa kualitas istirahat malam dengan siang walau durasinya sama tetapi efeknya berbeda. Lebih berasa kalau tidur malam dengan cukup daripada hibernasi siang hari. Hal ini jadi peringatan bagi kita bahwa bergadang itu tidak baik dan harus lebih berusaha lagi tidur lebih cepat karena begitulah kebiasaan orang-orang shalih terdahulu, tidur cepat lantas bangun di sepertiga malam terkahir untuk menghadapkan wajah kepada Rabbnya. [Disarikan dari tafsir Ibnu katsir dan tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin dengan penyesuaian dari penyusun.]

Penutup

Kesimpulan

Allah Swt, Sang Maha Pencipta telah menghendaki terjadinya siang hari dalam kehidupan ini. Siang hari memiliki beberapa sifat. Dalam Al-Quran, Allah Swt telah menyebutkan bahwa di antara sifat siang hari adalah terang benderang, penuh cahaya. Waktu siang terang benderang ini adalah berkat adanya matahari yang menyinari bumi. Sifat lainnya adalah bahwa siang hari itu silih berganti dengan malam. Silih bergantinya malam dan siang itu besar pengaruhnya atas kehidupan.

Kadang-kadang malam terasa panjang dan sebaliknya. Sifat berikutnya adalah sesungguhnya Allah memasukkan siang ke dalam malam dan sebaliknya. Maksudnya, jika Allah memasukkan siang ke dalam malam berarti waktu malam bertambah panjang. Sedangkan jika Allah memasukkan malam ke siang berarti waktu siang yang bertambah panjang. Semua itu berjalan berdasarkan pengaturan dari Allah Swt, Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Allah telah membagi waktu siang hari. Dalam makalah ini saya mencatumkan bahwa di antara pembagian waktu siang itu adalah waktu Dhuha. Waktu Dhuha ialah sejak pagi setelah matahari terbit, sampai naik sampai menjelang tengah hari.

Dengan adanya siang hari manusia bisa mencari penghidupan. Mencari rezeki di bumi Allah yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Misalnya dengan bekerja. Hal ini tak lain adalah hikmah adanya siang hari. Selain itu, hikmah selanjutnya adalah bahwa siang hari merupakan bukti kekuasaan Allah yang tidak ada seorang pun dari makhluk-Nya yang bisa menandingi-Nya. Allah menghendaki adanya siang juga agar manusia selalu bersyukur karena siang hari adalah rahmat Allah Swt. Siang hari menjadi pelajaran bagi manusia juga untuk bahan tafakur. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang mukmin mengambil pelajaran dari pergantian malam dan siang. Hendaknya kita memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Melakukan ibadah dan beramar ma’ruf nahi munkar.

Ya Allah, jadikanlah amalan terbaik kami adalah pada bagian akhirnya, umur terbaik kami adalah pada bagian akhirnya, hari terbaik kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu, Allahumma aamiin.

Wallahu a’lam bish-showab

Sumber

Al-Quran dan hadits

Tafsir Jalalain, Ibnu Katsir dan Al-Azhar

https://id-id.facebook.com/BerbagiPengetahuanMen/posts/399678353434573):

http://afiyatul-azkia.blogspot.com/2012/05/makalah-tadrib-kutub-tafsir.html)

http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-furqan-ayat-53-62.html#sthash.V72zuKjo.dpuf)

http://avianinuravivah.blogspot.com)

http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-luqman-ayat-20-34.html

http://agusxv.wordpress.com/2013/01/11/tafsir-surat-ad-dhuha-ayat-1/

Keajaiban-keajaiban Makhluk dalam Pandangan Al Imam Ibnul Qayyim, karya Abul Mundzir Khalil bin Ibrahim Amin (penerjemah: Abu Ihsan Al-Atsari Al-Maidani), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Sya’ban 1423 H / Oktober 2002 M, hal. 100-101.]

Iklan

Penulis: Siti Muhaira

Ana Muslim, lahir di Kota Hujan pada bulan Muharram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s