Kumpulan Cerita Santri PM #IBF 2014

SAM_3530

Lelah tapi Menyenangkan

Yuhhhu.. semua santri PM senang mendengar kabar bahwa tanggal 05 maret 2014, Rabu. Semua santri akan berlibur ke IBF. IBF apa yah? I? Islamic. B? Book. F? Fair, Oo..artinya? Pameran Buku Islam.

Kali ini aku dan santri sedang berlibur ke IBF. Kami  pergi dengan menaiki APTB, baru pertama kali sih kami menaiki ini. Lumayan seru lah kalau di perjalanan.

Aku melihat pedagang asongan yang menjajakan makanannya , orang yang pergi bekerja, anak sekolah yang pulang sekolah atau mungkin pergi sekolah, anak kuliah yang sedang menunggu bis dll.

Setiba di sana, aku langsung mengajak ketua kelompokku untuk berjalan-jalan melihat orang baru membuka tokonya, yah aku dan santri PM  lainnya kecepatan datang.

Aku dan kelompokku, pergi mencari buku bacaan. Aku cuma membeli 3 buku dan 1 Al-qur’an. Aku ingin sekali membeli semua yang dijual di sini, Karena harganya yang murah dan barangnya lumayan bagus.

Di sini juga ada Pameran Pedang Nabi dan sahabatnya. Aku ingin sekali melihat tetapi harus mempunyai karcis dan aku juga nggak tahu harga karcisnya berapa. Yah, aku nggak jadi melihat pamerannya.

Setelah puas, aku kembali ke Base Camp Pesantren MEDIA yang berada di samping Mushola Ikhwan. Aku ingin makan, dan juga ingin jajan. Jadi, aku memilih jajan duluan, baru makan.

Setelah selesai makan,  Aku sholat. Aku menemukan wc umum. Dan masuknya harus membayar seharga dua ribu rupiah.  Setelah wudhu, aku shalat di mushola akhwat yang lumayan juh dari mushola ikhwan.

Setelah puas berbelanja, makan, jalan-jalan, shooting, dll. Aku dan santri PM pulang, menaiki busway. Selama di dalam busway, aku tertawa karena Teh Via yang menganggap bahwa dirinya adalah “Anak Presiden”.

Dan Daffa yang mukanya di di depan ketiak mba-mba, dan Daffa nggak sadar bahwa mukanya berada di ketiak mba-mba. Setelah sampai, aku langsung mengerjakan shalat fardhu’.

Dan alat tranportasi yang aku pake terakhir adalah, Commuter Line. Di dalamnya aku berdesak-desakan dengan ibu-ibu, mba-mba. Setelah itu ku lega karena setelah itu aku dapat duduk dengan tenang.

Dan tibalah aku di stasiun, aku dan santri akhwat mencari tempat sholat. Ada sih tempat sholatnya, tapi kamar mandinya berdesa-desakan dengan laki-laki. Nggak mungkinkan kita udah selesai berwudhu’ kita bersentuhan dengan laki-laki.

Dan akhirnya aku dan santri akhwat sholat di masjdi raya yang lumayan dekat dengan stasiun. Setelah sholat kami pulang dengan angkot… dan berjalan kaki ke Pesantren.

Liburan yang meletihkan, tapi menyenangkan sekali.

[Alifa Nurul F, santriwati kelas 1 jenjang SMP, Pesantren Media]

Perjalanan ke IBF bareng santri PesMed

Rabu, 5 Maret 2014

Jam alarm dari hp-hp santri berbunyi membuat beberapa santri terbangun dari tidur mereka saat itu. Beberapa dari mereka langsung turun ke bawah untuk mandi. Aku  terbangun saat seseorang membangunkanku. Aku teringat hari ini kami akan pergi ke IBF dan langsung bergegas turun kebawah untuk mandi. Kulihat beberapa santri sudah siap dengan pakaian terbaik mereka hari ini.

Hari ini, santri akan akan jalan-jalan ke Islamic Book Fair (IBF) di Jakarta. Sehabis sarapan, ada beberapa pengumuman yang disampaikan yaitu pembagian kelompok untuk para santri. Usai pembagian kelompok dan beberapa instruksi sudah diberikan oleh Ustadz Oleh, kami segera berangkat menuju IBF. Kami berangkat menggunakan APTB.

Sesampai disana, kami langsung diberi pengarahan untuk berkumpul kembali tepat waktu dan tidak terpisah dari kelompok masing-masing. Santri mulai menyebar. Beberapa santri ada yang membeli baju, buku, kaus kaki, dan lainnya. Sedangkan aku, membeli tiga buku dan Al-qur’an.

Azan Dzuhur mulai berkumandang. Sesuai yang telah ditetapkan, santri mulai berkumpul kembali. Ada yang langsung shalat dan ada juga yang memilih makan siang dulu. Pulangnya, kami menaiki Busway menuju stasiun, menaiki kereta api tujuan Bogor. Tak terasa, kami sampai di Bogor saat azan Isya di kumandangkan. Santri Ikhwan shalat di Mushola stasiun. Sedangkan santri akhwat, diajak Ustadz Oleh untuk shalat di mesjid dekat stasiun. Setelah semua santri akwat shalat, kamipun segera menaiki angkot 03 untuk balik ke Pesantren.

Walaupun terasa melelahkan, tapi ini adalah pengalamanku yang menyenangkan bersama santri.

[Hanifa Sabila, Santriwati kelas 1 SMP, angkatan ke-2]

Perjalanan Ke IBF

Rabu, 05 maret 2014 para santri pesantren media  melakukan perjalanan ke islamic book fair atau yang lebih sering di sebut ibf. Kami berangkat pukul 08.00 dari pesantren dan sampai di ibf pukul 09.30 . sesampainya disana kami berkumpul sebentar setelah itu kami pergi berkeliling bersama kelompok masing-masing.  setelah dirasa cukup puas berkeliling kami berkumpul untuk makan siang dan sholat dzuhur. Sebelum pulang kami berfoto bersama untuk kenang-kenangan.

Jika awal keberangkatan kami menaiki bus aptb , saat pulang kami menaiki kereta, aku mendapat kesempatan untuk duduk dari awal keberangkatan kereta menuju bogor sampai di stasiun bogor, saat di dalam bogor aku tertidur cukup lama. Ketika aku terbangun kereta telah penuh dengan desakan penumpang. Teman-temanku yang tidak kebagian duduk terhimpit dengan desakan penumpang yang lain, karena hal itu mereka merasa mual. Untuk mengatasi mualnya mereka bercanda dan tertawa dgn suara yang cukup keras. Beberapa penumpang merasa terganggu dan memarahi mereka. Akan tetapi salah satu temanku mengatakan “maaf mbak, disini kan tidak ada tulisan dilarang ribut… lalu ia tertawa.” Mbak itu pun menjadi keder dan pergi menjauhi temanku tersebut. Salah seorang ibu yang berpakaian cukup rapi memakai jas, melihat teman-temanku dengan tatapan sinis dan tersirat jelas pada wajahnya bahwa ia tak menyukai tingkah temanku tersebut.  Singkat cerita kami sampai di pesantren sekitar pukul 20.15 .

[Ela Fajarwati Putri, kelas 1 SMA, angkatan ke-3]

Jalan-jalan bermanfaat 

Hari ini tanggal 5 Maret, namun yang lebih penting dari itu adalah bahwa hari ini aku akan berangkat ke Senayan, ikut serta meramaikan Islamic Book Fair ke 13 bersama teman teman lainnya.

Usai review di pesantren jam tujuh pagi, kami berangkat naik bus APTB sekitar jam setengah delapan setelah sebelumnya bersempit sempitan mempertahankan posisi demi duduk nyaman di dalam angkot. Setidaknya semua itu terbayar di bus ini, bangku di baris ke dua menjadi tempat yang nyaman untuk menempuh perjalanan ini. Setiap baris terdiri dari tiga bangku, aku berada di tengah, Ustadz Oleh di sebelah kiriku dan Rizki sebelah kanan.

Singkat perjalanan, kami tiba di senayan sekitar jam sepuluh. Sedikit lebih lambat dari waktu normal, tentu saja itu terjadi karena ada sedikit kemacetan ketika bus mulai memasuki perkotaan Jakarta, kendaraan padat merayap seperti sebuah antrian di pintu loket yang terjadi karena jumlah loket yang tersedia sangat tidak sebanding dengan pembeli yang datang, sehingga mengantri menjadi pilihan yang terpaksa diambil untuk mendapatkan sebuah tiket.

Sebelumnya, bus APTB yang kami naiki berhenti di halte Polda. Dari halte, kami menyebrang menggunakan jembatan layang, berjalan sedikit lagi, dan kami sampai.

Hal pertama yang kami lakukan setelah sampai di lokasi adalah mengumpulkan masing masing anggota kelompok. Setiap santri telah dibagi menjadi beberapa kelompok. Dan aku menjadi ketua dari 3 orang lain yang menjadi tanggung jawabku, Fadlan, Qois, Abdullah.

Kami mulai menjelajah bersama kelompok masing masing. Memasuki pintu masuk pertama, seolah masuk ke dunia yang berbeda. Sekarang aku lebih senang menyebutnya dunia buku. Tempat dimana kau tak akan mampu menghitung jumlah buku yang ada, ribuan judul, jutaan jumlahnya, bahkan mungkin jauh lebih banyak dari yang ada dalam pikiranku saat itu.

Barangkali setiap pengunjung di sini sedang memikirkan beberapa judul buku yang belum sempat terbeli, kemudian dengan iming iming diskon yang cukup besar, mereka rela berdesak desakan mencari satu dari ribuan buku lain, meniti dan membaca setiap buku yang dilihatnya, kemudian menyamakannya dengan judul yang masih tersimpan di kepala. Belum lagi harus antri ketika membayarnya.

Lupakan tentang itu, aku belum berfikir untuk mulai mencari buku, penjelajahan baru saja dimulai, kurasa sebaiknya mengetahui terlebih dahulu seluk beluk lokasi ini. Aku dan yang lainnya berjalan menuju tribun, panggung utama. Panggung diisi dengan acara talkshow bersama dua keluarga hafidz.

Dibanding IBF tahun lalu, ada perbedaan yang sangat menonjol ketika aku memperhatikan stan stan yang tersedia di panggung utama ini. Jika tahun lalu dipenuhi dengan penerbit penerbit besar seperti Gramedia, Mizan, Republika. Maka kali ini aku tak melihat semua penerbit tersebut di sini.

Sampai saat ini, kami masih belum tahu apa yang harus dilakukan? Kemana sebaiknya melanjutkan perjanan? Masih tetap buntu, kami hanya duduk di tribun, menyaksikan talkshow, atau mungkin hanya melihatnya, karena percakapannya nyaris tak terdengar karena suara ribuan pengunjung lain sukses menyamarkannya. Bosan dengan acara tersebut, aku membawa kelompokku berjalan, terus berjalan, hanya berhenti ketika ada hal yang membuat penasaran, kemudian berjalan lagi, menelusuri belokan demi belokan, bertemu dengan belokan yang sama, melewati jalan yang juga sudah dilewati, hingga sampai ke titik kejenuhan.

Mondar mandir tak jelas dan tanpa tujuan membuat waktu berjalan seolah lebih cepat, aku lelah, dan saat memperhatikan jam di HP, hampir Dzhuhur. Sekarang waktunya makan siang, kami berkumpul di samping musholla takaful, di sanalah rombongan Pesantren Media makan siang di atas sebuah tikar.

Adzan Dzuhur terdengar, aktifitas para pengunjung perlahan mulai berpindah, keluar dari gedung istora, kemudian memenuhi setiap musholla yang tersedia. Musholla kini seperti sebuah sarang semut dengan semut semut yang membludak jumlahnya. Bahkan, telat sedikit berpengaruh sangat lama ketika antri di tempat wudhu.

Usai Dzuhur, aku mulai mencari buku bersama Musa. Mengamati setiap tulisan yang kulewati, tak juga kutemukan buku yang sedang aku cari. Kami mendatangi stan stan penerbit besar, seperti Gramedia dan Mizan. Masih belum ketemukan.

Setelah ratusan stan yang kulewati sejak pagi tadi, aku mulai menyerah dengan pencarian buku sejak tadi kucari cari. Maka aku melupakan buku tersebut, kemudian membaca baca buku lain, barangkali ada buku yang membuatku tertarik.

Tak lama setelah itu beberapa buku kudapatkan. Merasa cukup, aku dan Musa kembali ke rombongan. Setelah semuanya berkumpul, kami akhirnya pulang sekitar jam dua siang. Sebelumnya tak lupa foto bareng di depan Gedung Istora.

Perjalanan pulang berbeda dengan saat berangkat. Kami tidak menggunakan bus APTB, Ustadz Oleh memutuskan naik busway terlebih menuju Kota, kemudian dari sana naik Commuter. Kepututsan tersebut diambil karena bus APTB baru akan tiba sekitar jam 4 sore, dan itu terlalu sore.

Mengantri dari jam 2 siang, akhirnya kami berhasil merangsek masuk ke dalam busway sekitar jam setengah 4. Ustadz Oleh bersama rombongan akhwat telah berangkat terlebih dahulu, mungkin 45 menit yang lalu.

Aku sempat menghitung jumlah halte, kami melewati 15 halte dari Polda menuju Kota, dengan pemandangan yang selalu sama, gedung gedung menjulang, tidak terlalu tinggi, ditambah jalanan padat Ibukota. Salah satu tanda tanda akhir zaman, dimana orang orang mulai berlomba lomba membangun gedung tinggi.

Di dalam busway, penumpang berdiri berdesak desakkan, berjubel, menciptakan peluang baik bagi para pencopet, aku waspada. Namun beberapa orang mendapat keburuntungan baik, sepertiku, baru saja masuk ke dalam busway, langsung mendapat bangku karena orang yang duduk di depanku hendak turun di halte selanjutnya. Teman teman yang lain, Fadlan, Mas Farid, Rizki, Ihsan, terpaksa harus tetap berdiri, bertahan dengan rasa pegal setelah mondar mandir di Istora.

Aku menawarkan bangkuku kepada Ihsan, karena kulihat wajahnya seperti sangat kelelahan, ia menolaknya. Namun tak lama setelah itu, Ihsan mendapat bangku duduk tepat disis kiriku.

Busway terus melesat lancar di jalurnya, dan berhenti sejenak ketika sampai di halte halte yang tersedia. 45 menit dalam busway bukan perjalanan yang singkat, apalagi bagi yang harus berdiri mengalaminya, namun itu adalah konsekuensi yang harus dihadapi bagi setiap penumpang. Kurasa mereka tahu tentang itu.

Kulihat Ustadz Oleh dan rombongan akhwat sudah menunggu di depan musholla stasiun kota. Mereka sudah sholat, kini giliran kami sholat Ashar sebelum melanjutkan perjalanan yang masih panjang.

Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan menggunakan commuter, tiket seharga 5000 akan membawa kami sampai di bogor. Jauh lebih murah dibanding kendaraan umum lainnya. Tak da yang tidak tahu bagaimana penuhnya penumpang commuter, dari awal memasuki pintu commuter, suasanan itu langsung terasa. Tak ada satupun kursi kosong. Kami berdiri kurang lebih 2 jam di dalam commuter, merasakan puncak keletihan yang bertumpu di kaki.

Namun ini pertama kalinya aku merasakan yang seperti ini, bukan sekedar berdesak desakan, melainkan berhimpit satu sama lain, saling dorong, mempertahankan posisi masing masing. Aku berdiri di depan pintu kereta sebelh kiri. Awalnya tidak terlalu penuh, sehingga aku masih bisa duduk di lantai kereta. Namun setelah kereta memasuki stasiun kemayoran, bahkan berdiri pun butuh perjuangan agar tetap bertahan. Aku merasakan sedikit sesak saat berusaha menghiurp oksigen, perutku tertahan karena berhimpitan dengan penumpang lain.

Terhimpit keras oleh penumpang lainnya, pipiku menempel di kaca pintu sebelah kiri kereta. Semakin sempit setiap kali kereta berhenti di stasiun, semakin panas ketika kesempitan semakin bertambah, semakin lelah ketika aku berdiri semakin lama. Dan orang orang pun semakin kesal ketika kereta beberapa kali berhenti di pertengahan rel, mungkin menyesuaikan jadwal dengan kereta lainnnya agar tak terjadi miss.

Setelah semua kesengsaraan itu kurasakan, akhirnya stasiun demi stasiun membuat penumpang perlahan berkurang, ruangan lebih lega dan lengang. Akhirnya dapat bernafas lebih lega. Namun tetap saja kaki ini terasa sangat letih, bayangkan rasa lelah ketika harus berdiri 2 jam di dalam kereta, betisku terasa seperti mau pecah.

Adzan maghirb terdengar, tepat ketika kereta memasuki stasiun Bogor. Aku meluruskan kaki sejenak, kemudian mulai berjalan menuju mosholla di Stasiun Bogor. Selanutnya, kami menaiki kendaraan terakhir, angkot. Alhasil, jam 7 kurang kami sampai di Pesantren dengan selamat, hati riang, perut lapar, dan kaki pegal. Namun terbayarkan oleh rasa puas setelah hati terasa lebih fresh oleh jalan jalan bermanfaat, mendapatkan buku dan menambah pengalaman.

[Ahmad Khoirul Anam, Santri Angkatan ke2, Jenjang SMA, PesantrenMedia]

Ada Cinta di IBF 2014

Berbicara tentang cinta. Siapa yang tidak memiliki rasa cinta? Adakah yang belum pernah merasakannya? Penulis yakin setiap orang pasti pernah merasakan cinta. Entah itu cinta kepada Allah Swt, Rasulullah Saw, orang tua, keluarga, sahabat atau pun kepada harta benda. Cinta membuat hidup lebih bermakna dan terasa indah. Dan itulah yang penulis rasakan. Tapi kali ini rasa cinta yang penulis rasakan bukan kepada orang tua atau ‘someone special’. Melainkan cinta kepada saudara se-iman bahkan se-asrama. Ya, mungkin di antara kalian sudah mengerti apa yang penulis maksud.

Kebersamaan membuat cinta lebih terasa. Seperti yang penulis rasakan saat pergi ke Islamic Book Fair (IBF) di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada hari Rabu, 5 Maret 2014 kemarin. IBF merupakan pameran buku-buku Islam yang bisa dibilang terbesar dan terlengkap di Indonesia. Penulis pergi ke sana bersama santri Pesantren Media Bogor dan beberapa guru. Sebenarnya ini adalah moment refreshing bagi penulis dan para santri di tengah kesibukan kami menimba ilmu di Pesantren. Mungkin moment refreshing juga untuk guru-guru yang ikut. Hehe.

Bagi penulis, pergi ke IBF kemarin adalah untuk yang kedua kalinya. Setelah tahun lalu pergi dengan santri angkatan 1 dan 2 SMA juga angkatan 1 SMP yang ‘sesuatu banget’ rasanya. Sampai penulis dan dua santri akhwat lain -yang tidak bisa disebutkan namanya -seperti ‘orang terlantar’ dengan melantunkan lagu ‘Berita untuk Kawan’ karya Ebiet G Ade saat perjalanan pulang malam dengan menyusuri tepian jalan, berdesak-desakan di dalam busway, bertemu dengan ‘Azzam’ anak kecil yang bikin gemas saat di kereta. Juga kejadian ‘pembuangan tiket kereta api’ yang tak akan terlupakan. Haha.  Ya, itulah kami.

But, moment refreshing kemarin penulis merasakan hal yang berbeda. Gimana nggak? Beda dengan tahun lalu, untuk IBF yang kemarin penulis ‘ditemani’ santri baru. I mean, ‘adik kelas’. Yeahh!

Pergi dengan santri baru pasti ada cerita baru. Namun bukan berarti nggak ada cerita dengan santri angkatan 1, 2 SMA dan angkatan 1 SMP. Tetap ada. Bahkan lucu dan istimewa. Ya, jika tahun lalu ke Senayan naik KRL Commuter Line, kemarin kami pergi dengan naik bus APTB. It’s my first time to ride that bus! Tapi sampai sekarang penulis belum tahu APTB itu singkatan dari apa. Walaupun begitu, penulis bersyukur karena busnya bersih, nyaman, rapi dan pastinya gratis. Ustadz Oleh, kepsek Pesantren Media yang bayar ongkos busnya yaitu Rp 14.000/orang. Jazakallahu khairan katsira, Ustadz!

Bus APTB berhenti di pemberhentian bus Polda dan jaraknya nggak terlalu jauh dengan tempat tujuan. So, kami tinggal jalan kaki beberapa km. Dan mulailah petualangan kami menyusuri stand demi stand yang ada di IBF. Oya, sebelum lupa, kami dibolehkan berpetualang dengan kelompok yang sudah ditetapkan saat briefing. Dan penulis ditemani Teh Novi, Hanifa dan Tya.

Menyusuri stand demi stand buku membuat penulis pusing karena saking banyaknya buku yang dipajang. Belum lagi rasa sedih yang penulis rasakan karena tidak bisa menemukan buku yang penulis cari. Dan bertambah sedih lagi, karena ada dua buku yang mencuri perhatian tapi sayangnya penulis tak bisa membelinya dikarenakan suatu alasan -yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Haha. Tapi di tengah rasa sedih yang ‘melanda’ hati, penulis sempat juga membantu kelompok Putri, Neng Ilham, Holifah dan Nissa syuting film mereka di stand Mizan. Pura-puranya, penulis lagi milih-milih buku padahal penulis lagi bantuin pegang perekam suara yang ditutupin sama kertas. Haha.

Menyelusuri stand buku, jilbab dan kerudung lama kelamaan membuat perut penulis keroncongan. Finally, penulis diikuti Teh Novi, Hanifa dan Tya memutuskan untuk pergi ke base camp Pesantren Media yang berada di sebelah kiri mushola ikhwan. Ternyata santri ikhwan sedang makan juga di sana. Mereka makan sambil duduk di atas tikar. Sedihnya, tak ada tikar yang kosong untuk penulis dan santri akhwat duduki.

Bersabar adalah kuncinya. Akhirnya santri ikhwan selesai makan kemudian pergi untuk melaksanakan sholat Zhuhur. Tinggalah santri akhwat yang makan. Nasi ditambah rendang plus sambal hijau adalah menu makan kami saat itu. Alhamdulillah… yummy and spicy!!

Usai makan waktunya sholat Zhuhur. Tempat wudhu di IBF ternyata kurang memadai bahkan airnya habis. Kok bisa, ya? Sedangkan masih banyak pengunjung yang belum wudhu. Penulis dan santri akhwat lain akhirnya berwudhu di kamar mandi khusus akhwat di lantai dua dengan membayar Rp 2.000-. Ya, alhamdulillah dengan begitu penulis bisa sholat Zhuhur. Waktu sholat, penulis diminta jadi imamnya. Dan nggak nyangkanya, ternyata penulis dapat dua orang makmum asing. Semoga sholatnya diterima sama Allah Swt. Amiin. Ya, usai sholat beberapa santri memilih untuk ‘berpetualang’ kembali.

Ya, moment refreshing kemarin telah mengawali daftar liburan kami di bulan Maret 2014. Sebenarnya, penulis masih punya banyak cerita yang lucu, sedih, gokil tapi istimewa karena akan menjadi kenangan tersendiri. Penulis merasa moment refreshing kemarin telah menambah rasa kebersamaan dan ukhuwah di antara santri Pesantren Media dan guru-guru. Dan sesuai dengan judul tulisan ini, pastinya menambah rasa cinta. Di tengah rasa senang, puas, sedih, lelah atau kecewa yang mungkin dirasakan oleh santri saat ke IBF –misal kecewa karena harga jilbabnya terlalu mahal- ingatlah bahwa terdapat rasa cinta, kebersamaan dan kasih sayang. Semoga rasa cinta ini akan selalu dirasakan oleh kami. Semoga rasa cinta ini tak luntur ubahnya baju biru yang dicuci dengan baju putih -karena bajunya bisa luntur kalau disatuin-. Justru rasa cinta itu semakin kuat. Ada cinta cinta di IBF! Innii uhibbuki fillaah…^^ HAMASAH!

[Siti Muhaira, santriwati kelas 2 jenjang SMA, Pesantren Media]

Menyenangkan

Islamic Book Fair. Artinya apa yah? Buku Islami apa? Aduh, fair artinya apa ya? Em, mungkin bazar buku islam kali ya? Eh, gak tau deh. Pokoknya namannya Islamic Book Fair yang di sana banyak orang jualan buku islam, jilbab, obat-obat herbal, baju ikhwan, baju anak-anak muslim, dan banyak lagi deh. Kalo punya banyak duit, insya Allah dibeli semua deh. Habisnya, udah bagus-bagus murah lagi.

Nah, ngomong-nngomong Islamic Book Fair. Rabu 05 Maret 2014, santri-santri Pesantren Media melakukan perjalanan menuju Senayan. Tujuannya adalah pergi ke Islamic Book Fair. Yah, walaupun tidak semua satri Pesantren Media mengikuti jalan-jalan ke Islamic Book Fair. Ada yang lagi sakit dan ada yang pulang. Tapi, tetap menyenangkan kok walaupun akhirnya melelahkan sekali.

Kaki-kaki santri pesantren media mulai melangkah untuk menuju terminal. Ya, kali ini kami akan menggunakan  APTB untuk pergi ke Islamic Book Fair. Perjalanan dimulai!

Tidak lama setelah berada di dalam angkot yang penumpangnya maximal sekali. Kami turun dari angkot dan masuk ke dalam APTB. Aroma  di dalam APTB mengingatkanku kepada aroma ketika di damri. Yang membuatku akan meras sakit perut dan  pusing. Yang berbedanya adalah, di damri kita bisa tidur. Tapi, di APTB susah sekali mau tidurnya.

Sudahku duga dari awal,  aku pasti akan merasakan kebosaan dan sakit kepala. Tapi  tenang,  itu hanya sementara. Kalo sudah sampai tujuan, pusing itu akan lewat begitu saja.

Perjalanan menuju senayan. Membuatku ingin pulang kampung lagi. Tapi ini adalah perjalanan menuju senayan. Bukan Soekarno-Hatta. Perjalanan pun berlanjut dengan lancar. Akhirnya santri-santri pun turun di pemberhentian Busway Polda.

Oh, iya. Selain menggunakan APTB kami juga menggunakan mobil. Tapi, yang di dalam mobil adalah ustadzah dan anak-anak. Walaupun ada ustadz, santri dan teh Yuni. Dan sisanya naik APTB.

Kami dibagi  berkelompok-kelompok. Yang di kelompok itu  ada seorang pemimpin. Dan 1 kelompok itu tidak boleh berpisah. Apabila  ada yang mau pergi hanya berdua atau berapa, yang penting sendiri. Itu harus meminta izin dulu kepada pemimpin masing-masing.

Kami pun masuk. Tapi, aku dan kelompokku masuk kedalam untuk shooting, bukan untuk jalan-jalan. Apabila shooting selesai baru bisa jalan-jalan.

Di Islamic Book Fair banyak orang yang menggunakan cadar. Tapi,aku rasa orang yang menggunakan cadar itu cantik-cantik, gak tau deh! Menurut kalian.

Setelah itu aku dan Fathimah membeli tiket untuk melihat pedang nabi dan sahabat-sahabatnya. Tapi, sayangnya itu hanya duplikatnya saja. Tapi, tak apalah. Yang penting sudah ada gambaran. Di dalamnya kami melihat Oky Setiana Dewi dan suaminya. Tapi, sayangnya itu hanya photo. []

[Saknah Reza Putri, santriwati Pesantren Media, jenjang SMP, angkatan ke-1]

Syuting Pertama Di IBF

Rabu lalu, tepatnya tanggal 5 desember kami pergi mengunjungi pameran buku islami terbesar dan terlengkap di Jakarta pusat. IBF. Islamic Book Fair.

Pergi ke sana sangat dinanti-nanti oleh beberapa santri, salah satunya aku dan kelompok filmku, di antaranya Nissa, Putri dan Kholifah. Mungkin kalau tidak punya tujuan pergi ke sana, kami bingung mau ngapain. Beli buku paling satu dua. Mau beli jilbab atau kerudung uangnya juga pas-pasan. Walaupun murah-murah, tapi untuk yang lagi tidak punya uang tetap saja mahal.

Jam 10 an kami rombongan Santri Pesantren media sampai di GBK, aku dan kelompok filmku segera mencari tempat untuk syuting. Setelah berkeliling sambil mencari buku-buku yang menarik, akhirnya dapat tempat yang nyaman di Stand Bukunya Mizan.

Untunglah kami dapat izin dari atasan Mizan untuk syuting di sana. Dibantu Teh Yuni dan teh Ira akhirnya scene pertama yang adegannya lagi cari-cari buku dan bertemu teman lamanya, selesai.

Setelah syuting, kami pergi keluar dekat parkiran untuk mencari udara segar karena di dalam pengap sekali. Maklumlah banyak pengunjung berjejal-jejalan membuat nafas plin-plan untuk keluar dan masuk. Tersedak-sedak, berdempet-dempetan membuat kepala pusing dan badan penat. Ditambah bau keringat dari orang-orang yang hilir mudik dan suara bising menjadi pelengkap suasana saat itu.

Kami segera mencari tempat supaya bisa diduduki. Alhamdulillah tak susah mencari tempat untuk duduk. Karena tempatnya tepat di hadapan mataku.

Tiba-tiba saja, kepalaku pening dan perutku sangat sakit. Seharusnya aku jangan mengambil resiko ini. Tapi mau gimana lagi, sudah terlanjur.

Saat itu aku memang sedang tak sehat, tapi aku paksakan diri untuk ikut ke sana karena kasihan sama kelompok filmku. Syuting pertama harus jadi.

Alhamdulillah ternyata ‘perjuanganku’ tak sia-sia, meski tak maksimal tapi seenggaknya ada hasilnya. Dan sekarang masih menunggu permintaan dari teman-teman, “kapan kita berdiskusi lagi masalah film ini teman-teman?” ^_^

[Neng Ilham, santriwati kelas 3 jenjang SMA, Pesantren Media]

Di penghujung 12 jam perjalanan.

Kemarin, tanggal 5 Maret 2014. Aku dan teman-teman di Pesantren Media pergi ke Islamic Book Fair Senayan, Jakarta. Selama 12 jam perjalanan dari Bogor ke Jakarta kemudian pulang kembali ke Bogor, tentunya banyak sekali yang terjadi. Banyak hal yang unik dan banyak hal yang menarik.

Salah satunya adalah pengalaman pertamaku menaiki ular besi Jakarta. sudah hamper dua tahun aku berada ditanah jawa tapi belum pernah menaikainya. Ular besi yang aku maksud adalah kereta api. Sebelumnya, aku hanya bisa melihat kereta ketika pulang siaran siaran disalah satu radio di Bogor, kereta itu melintas dihadapan kendaraan ketika palang kereta ditutup.

Semua kendaraan yang tadinya lalu-lalang seolah berhenti ketika kereta datang. Kendaraan-kendaraan itu seakan menyambut kedatangan kereta dan tidak mau menghambat lajunya jalan kereta.

Tapi, aku senang sekali ketika melihat kereta melintas di depanku. Seketika aku menjadi seperti adek Muhammad. Memperhatikan kereta yang lewat dari ujung sampai ujung. Bagiku itu hal yang menyenangkan. Dan tak jarang teman-teman yang melihatku memperhatikan kereta meledek karena aku belum pernah naik kereta. Dan membuatku sangat ingin menaiki kereta.

Keinginanku akhirnya terwujud, sebelum pulang pimpinan pesantren mengumumkan “kita Insya Allah pulang dengan kereta nggak naik Bis atau APTB seperti berangkat tadi”. Saat itu, rasanya senang banget karena tujuan utama aku ikut ke IBF bukan untuk beli buku atau apa. Aku pergi ke IBF itu sebenarnya karena mau naik kereta. Soalnya, hari-hari sebelumnya dikatakan berangkatnya naik kereta.

Tapi, karena ada pertimbangan yang harus diperhatikan maka pihak pesantren mengganti dengan menggunakan APTB. Dan sebelum berangkat dari pesantren juga dikatakan kemungkinan pulangnya naik APTB juga.

Hmm, senang banget pokoknya. Akhirnya aku bisa merasakan rasanya naik kereta. Sekita jam 4 lewat aku  dan teman-teman akhwat masuk kedalam gerbong khusus wanita. Kata orang-orang gerbong itu tidak ada laki-lakinya yang ada hanya wanita. Bahkan, petugasnya juga wanita. Tapi, saat aku masuk ada juga lho laki-lakinya. Ia adalah petugas kereta. Jumlahnya ada 4 orang, 2 petugas kebersihan dan 2 petugas keamanan.

Saat di kereta, aku nggak menyangka kalau ternyata rasanya seperti naik transmerto. Tadinya aku kira, kereta itu mempunyai suara yang sangat memekakkan, tapi tidak. Tadinya aku kira kalau naik kereta dari Jakarta ke Bogor Cuma sekitar 15 menitan, ternyata tidak. Dan tadinya aku kira sempit dikereta itu seperti sempitnya naik angkot penuh, ternyata tidak.

Nggak pernah terfikir sebelumnya olehku, kalau sempi-sempitannya di kereta itu seperi masuk angkot yang kapasitasnya hanya 11 orang tapi dimasukkan 30 orang. Masuk nggak masuk dipaksakan. Semua penumpang nggak akan bisa bergerak. Seluruh tubuh terjepit diantara tubuh-tubuh orang yang terjepit juga.

Bagi orang-orang yang ada di gerbong ini mungkin ini hal yang biasa, karena mereka sudah sering dan terbiasa dengan kondisi seperti ini. Tapi, ini pengalaman pertamaku naik kereta dan bersempit-sempit ria didalam angkutan umum.

[Nurmaila Sari, Santri Angkatan ke-1, Jenjang SMA, Pesantren Media]

Sweet Memory

Rabu tanggal  5 Maret 2014 minggu lalu adalah hari yang istimewa, bukan karena itu hari ulang tahunku, tetapi karena semua penghuni Pesantren Media mengunjungi IBF (Islamic Book Fair).Tepatnya pukul 08.00 kami para santri Pesantren Media pergi mengendarai bus APTB menuju senayan. Saat di dalam bus APTB kami mulai beraksi ada yang foto-foto,merekam dan ada juga yang bersendagura.

Kami sangat menikmati perjalanan.  aku hanya memandang keluar jendela memerhatikan jalanan hingga aku tak sadar kalau bus sudah meninggalkan Kota Bogor dan memasuki jalan tol. Aku mulai bercakap-cakap dengan maila membicarakan hal-hal yang enggak jelas hanya sekedar untuk menghilangkan rasa bosan seperti menghitung roda” kontener “dan sampai sekarang aku dan maila tidak tau berapa aslinya jumlah roda “kontener”  tersebut.

Perjalan kami pun terhenti pada pemberhentian bus APTB. Kami pun langsung turun dan bergabung sesuai dengan kelompoknya masing-masing, untuk sampai di IBF kami harus melewati  jembatan layang. Sebelum kami berangkat kami sudah di bagi kelompok terlebih dahulu jadinya sampai di IBF kami langsung aja berpencar bersama kelompok masing-masing.

Kali ini akulah yang menjadi ketua kelompok yang anggotanya Fathimah, Mufiddah dan Maila.  Kelompok kami mengawali perjalanan kami di stan yang paling bawah terlebih dahulu. Setelah kami berkeliling akhirnya kami berhenti di beberapa stan  dan kami mendapatkan buku apa yang kami inginkan. Karena sudah cukup lelah kami pun beristirahat di tribun untuk meluruskan kaki kami yang sudah mulai pegal-pegal .

Karena rasa lelah itu sudah mulai menghilang kimi pun kembali meneruskan perjalanan kami. Tujuan terakhir kami adalah mencari poster untuk adik fathimah. Setelah itu kami pun langsung kembali ketempat awal dimana kami berkumpul tadi.

Hari sudah semakin siang kami pun bersiap untuk pulang sebelum pulang kami berfoto-foto dulu di depan poster bertuliskan IBF untuk dokumentasi  dan barulah kami memulai perjalanan kami untuk kembali ke Pesantren.

MENANTI…

Kami berhenti di depan loket busway. Satu persatu kami mengatri untuk membeli tiket busway yang jurusan kota. Setelah lama menunggu akhirnya busway yang kami nantikan datang juga, sebagian dari kami langsung masuk kedalam busway tapi malang kelompok kami, kami harus menunggu busway jurusan kota selanjutnya karena yang awal tadi sudah tidak cukup lagi.

Alhamdulillahnya busway yang selanjutnya tidak cukup lama akhirnya kami pun masuk kedalam busway tersebut. Akhirnya setelah melewati beberapa pemberhentian sampaialah pada tujuan kita yaitu pemberhentian kota. Kami kaget sekaligus bingung  ternyata kami hanya naik busway berempat tidak bersama ikhwan, kami pun menunggu ikhwan “mungkin ikhwan ada di busway belakang kali” batinku.

Karena kami tidak tahu setelah ini harus pergi kemana lagi fathimah akhirnya menelepon Via beberapa kali untuk menanyakan mereka ada di mana. Kami tetap menunggu ikhwan karena takutnya kita di cari nanti malah akan merepotkan dan memperlama perjalanan. satu busway lewat tidak ada dua busway lewat tidak ada sampai beberapa busway lewat pun tidak ada sampai pada akhirnya Fathimah kembali menelepon via untuk menanyakan apakah ikhwan sudah sampai disana terlebih dahulu tetapi karena tidak jelas dan putus-putus akhirnya Fathimah mematikan telepon tersebut dan kami pun memutuskan untuk berjalan menyusuri koridor dan kami bertemulah dengan santri akhwat yang lain.

SERASA SATU BANDING SERIBU

Selesai shalat ashar dan semuanya sudah berkumpul  kami pun langsung berjalan lagi menuju stasiun kereta kami langsung membeli karcis. Setelah kami memegang masing-masing kami langsung menaikin kereta khusus perempuan. Karena kereta sudah mulai penuh kereta pun berjalan menuju stasiun selanjutnya.

Hingga kereta berhenti pada stasiun dimana sebenarnya sudah penuh tetapi tetap saja orang-orang masuk kedalam kereta. kami yang berdiri pun sudah merasa tidak nyaman lagi yang lebih tambah tidak nyaman lagi kami terhimpit sampai benar-benar nempel di pintu ada juga maila yang tanganya tidak bisa di gerakan gara-gara terhimpit kita bagai satu banding seribu orang. sempitnya bukan main. Dan ini baru pertama kalinya aku naik kereta dalam keadaan penuh sesak seperti ini. Dan kenangan yang tak terlupakan. Walaupun lelah tapi hal ini sangat menyenangkan untuk di ingat karena belum tentun hal ini terulang kembali.[Chairunisa, Santri Angkatan ke-2, Jenjang SMA, Pesantren Media]

 

Berkunjung ke IBF

Saya dan teman-teman pergi ke IBF Jakarta, yang diselenggarakan di Istora, Senayan. Berawal dari rencana pemberangkatan kami akan naik KRL, karena dengan beberapa kemungkinan. Pembina kami memilih untuk naik APTB, dengan alasan supaya  lebih aman. Pada awalnya ada beberapa santri yang mengeluh karena naik bus membuatnya mual. Namun, karena Pembina juga ada alasan-alasan tertentu. Jadi masalah transportasi sudah terselesaikan, tinggal pembagian kelompok untuk anak-anak santri supaya terjaga dan kejadian yang tidak diinginkan itu jauh dan tidak terjadi. Setelah semua masalah-masalah terselesaikan, pada pukul 08.00 WIB kami langsung berangkat.

Waktu diperjalanan menuju ke sana cukup menyenangkan. Dengan melihat pemandangan keluar dari dalam mobil APTB, cukup untuk mencuci mata yang sudah jenuh. Pada pukul 10.00 WIB kami sampai ke IBF, di sana  saya merasa jenuh, dan membosankan. Meski begitu, semua itu akan menjadi pengalaman yang mungkin akan menyenangkan jika saya nikmati. Karena waktu itu kondisi saya  kurang mendukung.

Perjalanan yang sangat melelahkan. Kami pulang sekitar  jam 14.00 WIB. Kami jalan menuju Halte Busway. Karena Busway yang menuju bogor (tujuan kami) akan datang lagi pada jam 16.00 WIB, akhirnya Pembina memutuskan untuk naik KRL, dengan tujuan pertama kami yaitu naik Busway yang menuju kota, ke stasiun kereta. Karena setiap Busway penuh, akhirnya rombongan kami dipisah-pisah menjadi beberapa kelompok. Sangat lama sekali menunggu sebagian dari rombongan kami, dan akhirnya tetap saja, kami pulang tepat pukul 16.00 WIB dan sampai di stasiun Bogor jam 18.30 WIB, lalu beristirahat sebentar, dan sampai di PM lagi pada pukul 20.30 WIB.

[Tya Intan Kasih, Santri Angkatan ke-2, Jenjang SMA, Pesantren Media]

TERBALAS MESKI LELAH

Yang namanya perjalanan jauh, pasti tidak akan pernah lepas dari rasa lelah. Tapi untuk rasa lelahku kali ini bukan karena aku jalan terlalu jauh dari Bogor ke Jakarta, Jakarta ke Bogor. Melainkan karena aku ingin membalas rasa bersalah yang selalu menghantuiku.

Menurut dokter yang dulu memvonisku Asma. Aku dilarang terlalu lelah oleh beliau. Tapi aku tidak percaya akan hal itu, aku bertekad  tetap membalas rasa bersalahku dan melanggar apa yang dokter katakan itu.

Jam menunjukkan pukul 8. Aku dan kru PM (Pesantren Media) bergegas pergi menuju terminal buswah APTB. Aku kira, busway APTB hanya sekedar bus Mini yang hanya muat beberapa orang saja. Tapi setelah aku melihatnya secara langsung, BUSWAY APTB lebih luas dibanding bus yang biasa aku naiki jika aku pulang ke Depok, rumahku. Bangku di busway tersebut hanya tersedia untuk beberapa orang saja. Alhasil, aku memutuskan untuk menempati tempat duduk di sisi kanan. Tentunya didampingi oleh Kru PM yang lain yaitu Via (Santri SMA Kelas 2), Daffa (Santri SMP kelas 1), Alifa (Santri SMP kelas 1), Hanifa (Santri SMP kelas 1) dan Ira (Santri SMA Kelas 2). Sedangkan untuk kursi di depanku diisi oleh Holifah (Santri SMA Kelas 2), Putri (Santri SMP Kelas 2), Nisa (Santri SMA Kelas 1), Neng Ilham (Santri SMA Kelas 3, satu angkatan denganku), Mufiddah (Santri SMP Kelas 2).

Ada pun di tempat duduk posisi belakang. Di bagian sisi kiri dan kanan ada 2 bangku. Bangku pertama diisi oleh Tya (Santri SMA Kelas 1) dan Ella (Santri SMA Kelas 2), sedangkan di sebelahnya diisi oleh orang yang tidak aku kenal. Untuk posisi belakang, tepat dibelakang Ella dan Tya diisi oleh Icha (Santri SMA Kelas 2) dan Maila (Santri SMA Kelas 2).

Beda halnya untuk Kru PM bagian Ikhwan. Sejak awal berangkat, mereka memutuskan untuk duduk di kursi paling depan.

MATA BULAT KARENA INBOX

Guys, tentu kalian tahukan acara TV, INBOX.  Acara yang menurutku tidak terlalu penting untuk di tonton. Why? Ya iyalah, coba kalian bayangkan. Dari banyaknya remaja yang datang kesana, ada sebagian dari mereka yang bolos sekolah hanya untuk INBOX.  Memang sih, dulu aku sempat terkesima dengan INBOX. Tapi kali ini, aku sadar, tidak seharusnya aku terkesima dengan hal semacam itu. Mau tempat acaranya dekat rumahku atau tidak, aku nda peduli. Beda halnya dengan anak jaman sekarang. Mata mereka bulat saat melihat INBOX di Ramayana bogor yang baru beberapa bulan buka. Dalam arti kata bulat, mereka penasaran bagaimana acara INBOX berlangsung?

Tapi untungnya Pak Supir baik, acara INBOX tersebut hilang sekejap mata saat Pak Supir terus melajukan Buswaynya tanpa henti dan aku yakin adik kelaskupun berpikir sama sepertiku, acara INBOX itu memang tidak penting.

KRU PM SAMPAI TUJUAN. KEMANA YA?

Waduh, dari awal cerita aku lupa memberi tahu kalian perihal tujuan Kru PM ke Jakarta. Yowes, penasaran toh. Tujuan kami ke Jakarta, karena kami ingin menghabiskan momen kebersamaan kami di acara “IBF (Islamic Book Fair). IBF biasa identik dengan surganya buku, kerudung, kaos kaki, manset dan jilbab murah. Untuk kaos kaki dan manset sendiri, biasanya disana dijual 10 ribu 3. Meskipun mansetnya suka beda warna dengan pasangannya, tak apelah yang penting murah Hehehe.

Ada juga buka setebal novel Harry Potter hanya dijual 25-30’an. Tapi untuk isinya, entahlah.

Tapi untuk belanjaan ku kali ini, sama halnya seperti belanjaanku saat ke IBF tahun kemarin yaitu manset dan kaos kaki. Selagi murah, aku bisa menjalankan amanah ibuku untuk tidak boros.

Ada juga tambahan lainnya. Itupun untuk kepentinganku dan teman seangkatanku yaitu Buku UN (Ujian Nasional). Kami berpatungan 20.000 untuk membeli buku UN tersebut.

MESKI BERALAS TIKAR, KAMI SENANG.

Momen kebersamaan. Aku menunggu betul momen tersebut. Meski Akhwat dan Ikhwan terpisah.

Belum lagi, kami ditemani oleh guru kami yaitu Ustad Oleh Solihin (Kepsek PM, Guru Menulis Kreatif, Website), Ustad Uci (Ketua Asrama Ikhwan), Teh Yuni (Staf PM), Ustadzah Wita (Guru PS (Publik Speaking dan TPPW (Tata Pergaulan Pria dan Wanita) dan Ustad Rahmat (Guru TQ (Tahfidzhul Quran, Nafsiyah Islamiyah, Fiqih Keseharian, Fiqih Sholat, Tafsir Quran). Momen tersebut kian begitu sempurna seperti halnya keluarga besar.

Jam menunjukkan pukul 11 (Kalau nggak salah, lupa soalnya. . hehehe). Kru PM  baik Ikhwan, Akhwat dan guru berkumpul di samping musholla tenda yang dibangun oleh Panitia acara IBF.

Digelarnya tikar disana dan kami duduk bersama sembari makan lauk yang menurutku enak, daging rendang. Lauk yang sama halnya seperti saat ke IBF tahun kemarin. Tentunya saat guru tegas kami Alm. Ustad Ir. Umar Abdullah masih bersama kami.

TERBALAS MESKI LELAH

Guys, tentu kalian sudah bacakan awal-awal kalimat perihal rasa bersalah itu. Yapz, maksud dari rasa bersalah yang aku rasakan itu karena aku merasa pelit memberikan tempat duduk untuk orang yang lebih tua dariku. Memang lebay sih, tapi rasa bersalahku itu selalu saja mengahantuiku.

Maka dari itu guys, aku bertekad untuk membalas rasa bersalahku dengan berdiri dari awal naik Bus Trans Jakarta, agar aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setelah itu, aku menyambung kembali saat aku naik Commuter line (betul nggak). Meski saat itu aku merasa lelah, aku tetap berdiri sembari menyenderkan tubuhku ke dinding Commuter line.

Tak kusangka, penumpang Commuter line makin banyak. Alhasil, tubuhku makin terhimpit dan sulit untuk digerakkan. Aku hanya bisa diam mematung, berharap ada keluasan di area tempat berdiriku.

Jam menunjukkan pukul 6 sore. Saat itu, kondisi Commuter line tidak lagi penuh setelah penumpang lainnya turun di 2 stasiun terakhir sebelum bogor.

Saat Commuter line terhenti di Stasiun bogor, aku bersyukur bukan main, karena aku berhasil membalas rasa bersalahku itu.

Lalu setelah itu, aku turun dari Commuter line sembari menahan rasa lelahku dengan kaki yang mulai keram dan sedikit bergetar. Bahkan aku sempat merasa ingin jatuh karena tidak sanggup lagi menopang kakiku. Untungnya teman-temanku tak henti memberiku semangat. Thank You Very Much kawan. .

_SEKIAN_

 (Novia Handayani, Santri Angk.1(3 SMA) Pesantren Media)

‘Cinta Segitiga’ di IBF

Tanggal 05 maret itu,tanggal yang ditunggu-tunggu santri Pesantren Media (PM). So, ditanggal itu Pesantren Media datengin pameran buku terbesar di Indonesi. Islamic Book Fair, biasanya sih santri PM ngomongnya IBF. Maklum jaman sekarang semua serba disingkat, hehe.

Jam setengah 8 udah On The Way ke Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB). Baru pertama kalinya naik APTB, udah ada yang bayarin. Makasih Ustadz Oleh Solihin (Kepala sekolah PM) udah bayarin APTBnya. Lumayankan jadi irit ongkos, hhe.
Semakin jauh jalan, semakin banyak yang naik APTBnya. Karena kursinya kurang memadai jadi banyak penumpang yang duduk dibawah. Semua kursi dikuasai santri-santri PM, hhe. Tapi, ada beberapa santri PM yang rela berdiri demi penumpang yang mau duduk, rela desak-desakan lagi. Wiiih, salut deh buat yang mau berdiri dan rela desak-desakan, salut juga buat yang pindah tempat duduk.
Kurang lebih satu jam berjalanan, akhirnya sampai di Senayan. Sesampainya di Senayan, aku, Nisa, Putri dan Teh Neng langsung nyari tempat buat sooting. Dapet tempatnya, dapet izinnya langsung deh sooting. Sootingnya ga lama, setelah selesai, aku dan Putri langsung nyari jilbab.
Judulnya aja pameran buku terbesar. Tapi tujuan aku ikut ke IBF cuma mau nyari jilbab murah, hehe. Udah keliling-keliling nyari jilbabnya, eh enggak dapet. Sekalinya murah, modelnya enggak suka. Ya udah aku sama Putri nyamperin Teh Neng sama Nisa.
Jam 12 kurang, waktunya makaaaaaaan (ketahuan laper banget). Makan sama rendang plus sambel ijo. Emmmb, enak banget. Setelah selesai makan, siap-siap sholat. Setelah sholat, Teh Yuni ngajak nyari jilbab. Langsung deh matanya liar buat nyari jilbab. Dan akhirnya, terjadilah ‘cinta segitiga’. Aku jatuh cinta sama 2 jilbab.
“Ini nih bagus item. 90an harganya.” Sambil nyodorin jilbab item bermotif bunga-bunga
“Iya teh bagus. Bahannya juga adem.” Ngambil baju dari tangan Teh Yuni
“Ini enggak bisa kurang Mbak.” Nyoba nawar sama mbak-mbak yang jualannya
“Enggak bisa. Itu bahannya juga bagus. Bahan arab.” Kata mbaknya
Akhirnya aku beli jilbab item itu. Lagi bayar, Teh Yuni, nyodorin lagi baju garis-garis. Jadi bingung mau milih yang mana.
“Ini 2, 150 bisa mbak?” kata Teh Yuni nawar ke mbaknya
“Wah belum dapet. Yang item ini kan bagus. Kalau 170 saya kasih mbak.”
“Ya udah satu aja teh.” Sambil liat kantong
“ Uangnya pas-pasan. Cuma ada 170 lagi. Kalau di beliin satu lagi, gimana pulangnya ntar.” Dalam hati
Akhirnya beli jilbab item aja. Setelah jalan dan melihat jilbab item lagi. Dan harganya di bawah yang tadi. The Yunipun ngasih saran.
“Gimana kalau kamu beli baju itemnya disini. Terus beli baju garis-garis yang tadi disana. Jadi paskan, 170. Baju item ini (baju yang udah dibeli) di tuker sama baju garis-garis. Mbaknya engga rugikan.”
Ragu-ragu. “Ya udah deh. Balik lagi Teh”
Setelah sampai ditempat baju item tadi. Pas mau nukerin, serasa berat banget ngelepasin jilbab yang item itu. Udah lama banget soalnya pengen jilbab item. Akhirnya Teh yuni nyaranin lagi.
“Gimana? Apa mau minjem dulu buat ongkos mah. Pinjem ke saya atau ama temennya.”
“Sebenernya enggak enak mau pinjem. Tapi yam mau gimana lagi. Kapan lagi ke IBF. Kalau nunggu tahun depankan lama banget.” Gerutuku dalam hati
“Ya udah teh, pinjem dulu. Ntar diganti di Pesantren ya.” Dengan nada yang engga enak, pinjem uang demi jilbab.

[Holifah Tussadiah, santriwati Pesantren Media, jenjang SMA, angkatan ke-2]

Funny in Busway

Rabu, 5 Maret 2014. Rasa lelah, penat, kantuk, dan segala macam jenis rasa menyeruak masuk ke dalam pori-pori kami. Menyatu pada aliran darah di dalam tubuh kami. Bagai daun yang ditiup angin, tubuh kami seakan sudah tidak kuat untuk berdiri.

Sepulang dari Islamic Book Fair di Istora Senayan, Jakarta, kami pulang menaiki commuter line. Kami menaiki busway menuju stasiun kereta api. Itu kali pertamanya aku naik busway. Meski lelah, tapi senang sekali bisa berdiri bersama teman-temanku di dalam busway. Aku jadi terkesan udik, karena heboh sendiri. Ya, mungkin karena aku takut jatuh ketika busway tiba-tiba rem mendadak.

Aku tidak mau berpegangan dengan lingkaran-lingkaran yang menggantung di langit-langit busway. Bukan karena sok higienis, tapi saya hanya takut baju saya tersingkap hingga auratku jadi terlihat. Aku memilih untuk berpegangan pada tangan kanan Holifah, salah satu teman di pesantren.

Aku terus cekikikan menahan geli karena tubuhku yang berdempetan dengan tubuh penumpang lain. Untungnya, penumpang di sekitarku perempuan semua. Aku sampai menenggelamkan tawaku dengan menggingit lengan bajuku.

Aku dapat menikmati pemandangan kota Jakarta yang padat dengan bangunan-bangunan tinggi, dan jalan raya yang sesak dengan transportasi darat. Kadang, beberapa pengendara motor ada yang menyelinap masuk melewati jalur khusus busway. Dan itu membuat busway berkali-kali rem mendadak. Dan tentu saja membuatku terkekeh karena banyak yang latah.
“Aduh, anak presiden kejempet, nih!” aku membuka pembicaraan, sekedar untuk mencairkan suasana yang kalut dengan rasa lelah pada wajah teman-temanku. Mereka tertawa.

“Baru pertama kali naik busway, Teh?” Putri, adik kelasku yang masih kelas dua SMP bertanya, sambil menggigit-gigit brosur lokasi IBF, yang tadi didapatnya.

Aku menggangguk,

“Kebiasaan carter helicopter, Put…”

Teman-temanku serempak terkekeh mendengar candaanku. Aku ikut tertawa kecil.

Aku tiba-tiba saja ingin ngakak, ketika melihat wajah Daffa berhadapan tepat dengan ketiak seorang mbak-mbak dengan tubuh gempal. Daffa itu, adik kelasku yang sekarang masih kelas satu SMP. Tubuhnya memang paling pendek, tapi dia jadi terlihat imut dengan tubuh yang begitu.

Daffa memerhatikanku yang masih terus-terusan menertawankannya. Dia bahkan belum sadar, bahwa wajahnya benar-benar dekat dengan ketiak mbak-mbak yang bulu ketiaknya kelihatan. Aku sampai sakit perut menahan tawaku yang seakan mau meledak.

Aku menunjuk-nunjuk ketiak mbak-mbak di depanku. Sontak, Daffa kaget dan mundur beberapa langkah untuk menjauhi lautan bulu di hadapannya. Tapi, wanita yang mengenakan baju garis-garis hijau-putih itu malah ikut-ikutan pindah tempat, dan membuat Daffa makin dekat dengan ketiaknya. Aku makin sakit perut.

Tawaku mulai reda ketika melihat sebuah gedung hotel yang tinggi menjulang. Aku lupa apa nama hotelnya. Katanya sih, itu hotel yang pernah di bom. Aku mengangguk-ngangguk ketika Teh Novi mengingatkanku tentang kejadian beberapa tahun lalu tersebut.

Aku mulai tenggelam pada pemandangan Jakarta yang jarang aku lihat di Bogor, atau pun di Samarinda, tempat asalku. Suara ibu-bu yang sepertinya sudah direkam terlebih dahulu, keluar lewat speaker. Suara itu memberitahukan nama halte yang akan menjadi tempat pemberhentian selanjutnya.

Entah apa yang salah, tiba-tiba busway rem mendadak dan membuat penumpang di dalam busway menjadi kaget. Saking kagetnya, Teh Novi hampir jatuh, untungnya… Teh Novi dengan gesit mengenggam ketiak Putri. Aku jadi kembali sakit perut, menahan ledakan tawa di dalam mulutku.

Selanjutnya, adalah pemberhentian busway terakhir. Aku dan teman-teman, ditemani Ustadz Oleh, turun menuju halte. Kami istirahat sejenak di halte, beberapa ada yang sholat asar, sambil menunggu rombongan lainnya.
Tentu saja, kenangan ini tidak bisa terlupakan sampai aku amnesia! [Noviani Gendaga, santriwati Pesantren Media, jenjang SMA, angkatan ke-2]

Refreshing ke Islamic Book Fair

Hari Rabu, 5 Maret 2014. Pesantren Media kembali menghadiri pameran buku islami di Istora Senayan Jakarta. 13th Islamic Book Fair Jakarta.

Pukul 8 pagi, kami sudah berangkat dari Kantor Pusat Pesantren Media di Komplek Laladon Permai. Sebelum itu, kami telah membagi kelompok kami. Kami memulai perjalanan dengan berjalan kaki menuju Bus APTB jurusan Bogor-Blok M di Bubulak. Untuk sampai ke sana, kami harus menaiki angkutan kota (Angkot) nomor 015.

Awalnya, semua santri mendapatkan kursinya di APTB. Namun seiring masuknya penumpang wanita dewasa lainnya, kami harus rela berdesak-desakan atau bahkan berdiri.

Ini adalah perjalan pertamaku naik Bus APTB. Sebelumnya aku pernah menaiki Bus Trans Jakarta. Tetapi aku dan ayahku saat itu mendapatkan kursi. Jadi tidak perlu pegel-pegel berdiri.

Perjalanan yang menyenangkan tidak terasa lama bagi kami. Atau lebih jelasnya, seperti bukan ke Jakarta. Namun setelah melihat ke jam, ternyata sudah dua jam berlalu. Lumayan..

Sampai di halte tujuan, kami langsung masuk ke lokasi acara. Di jalan, aku melihat banyak bus untuk mengangkut siswa-siswa dari sekolah lain.

Tidak berlama-lama, kami langsung memasuki arena book fair. Oh, iya. Aku mendapatkan kelompok bersama The Icha, The Maila, dan Mufiddah. Jadi kami berempat.

Selain mengunjungi pameran buku ini, aku juga ingin membeli beberapa buku. Yaitu Kitab Nizhom Islam, dan buku persiapan Ujian Nasional. Memang sekarang aku masih kelas 2 SMP. Tapi aku harus mulai mempelajarinya sejak sekarang.

Memasuki arena, kami justru menjadi bingung. Ke mana dulu, ya? Akhirnya, aku yang menjadi pemandu. Aku berpikir, kita jalan saja ke mana-mana. Kalau bertemu stand yang dicari, tinggal singgah sebentar.

Setelah lama berkeliling, akhirnya kamu menemukan stand milik penerbit Al-Azhar Press. Di sana, aku menemukan kitab yang kucari. Ternyata di tempat ini pula, The Icha juga membeli Buku Materi Dasar Islam. Beruntung sekali.

Sambil menunggu The Icha bertransaksi, aku masuk ke sebuah kantin di dekat stand itu. Aku merasa haus.

“Mbak, aqua berapa?” tanyaku menunjuk sebuah botol air mineral.

“Rp. 5000, neng.” Aku terkejut. Semahal itu, kah? Aku dapat mengambil pelajaran dari sini.Kalau mau perjalanan ke Jakarta, jangan lupa bawa air minum.

Ke mana lagi, ya? Ah, iya. Aku harus membeli poster untuk adikku, Muhammad. Dia memang baru masuk Taman Kanak-kanak.

Setelah lelah berputar-putar, akhirnya kami mulai kelelahan. Kami masuk ke arena lapangan, dan duduk di suatu bagian tribun. Tiba-tiba aku teringat bahwa ada suatu tempat yang di sana menjual kebutuhan Taman Kanak-kanak. Akhirnya kami ke sana.

Singkat cerita..

Sudah memasuki pukul 2 siang. Akhirnya kami pulang. Seperti rencana, kami pulang menggunakan kereta Commuterline jurusan Jakarta Kota-Bogor. Aku tidak akan menceritakan saat di perjalanan karena aku pulang dalam keadaan sangat lelah.

Akhirnya, kami sampai di asrama tepat saat orang-orang tengah melaksanakan sholat Isya. Alhamdulillah, perjalanan kali ini menyenangkan.

[Fathimah NJL, santriwati kelas 1 jenjang SMP, Pesantren Media]

The First And The Second

Pengalaman adalah suatu kenangan yang terukir di dalam memori ingatan setiap manusia. Adakalanya pengalaman itu mengisahkan kesedihan, duka cita, ketakutan, dan tidak jarang kebahagiaan.

Ya, setiap manusia pasti punya pengalaman hidup. Sering kali pengalaman itulah yang menjadi tolak ukur kita untuk berusaha meningkatkan kemampuan kita dalam menjalankan pekerjaan, atau untuk membangkitkan keterpurukan kita dari pengalaman kelam yang pernah kita alami.

Hari Rabu, 5 Maret 2014 Pesantren Media mengadakan perjalanan ke acara Islamic Book Fair (IBF) yang diadakan di Gedung Istora Senayan, Jakarta. Ini acara yang diikuti pesantren yang kedua kalinya. Banyak sekali pengalaman yang diceritakan oleh santri jenjang pertama dan kedua. Mulai perjalanan sampai mereka kembali ke pesantren lagi.

Bagi mereka acara tahun ini adalah yang kedua kalinya, sedangkan aku baru pertama kali ini mengunjungi acara bazar yang sebesar ini.

Sempat terjadi kendala dan kekecewaan dari raut wajah santri akhwat, karena keberangkatan tidak sesuai dengan keinginan mereka, yaitu naik kereta (tepatnya Commuter Line). Karena suatu sebab, maka Ustadz Oleh akhirnya memutuskan untuk naik APTB.

Terasa asing bagi kami mendengar nama angkutan itu. Sampai kami jadikan guyonan saat banyak dari kami yang salah  mengucapkannya dengan ATPB.

Namun, cita-cita kami akhirnya terwujud untuk pergi naik kereta saat perjalanan pulang.

Santri akhwat masuk ke gerbong khusus wanita, sedangkan Ustadz Oleh dan santri ikhwan masuk gerbong umum. Persis apa yang diceritakan oleh santri angkatan pertama dan kedua, gerbong sangat penuh. Apalagi banyak ibu-ibu hamil yang mengeluh kesakitan karena berdesak-desakkan.

Untuk mengusir rasa penat dan menghindari mual (mabuk perjalanan) santri akhwat memilih untuk bercanda sepanjang perjalanan. Dan yang selalu kami ingat, kami sering ditegur oleh penumpang lain karena keributan yang kami buat di gerbong.

[Zahrotun Nissa, santriwati kelas 1 jenjang SMA, Pesantren Media]

Iseng-Iseng Tapi Asik

Tanggal 5 Maret 2014 Pesatren Media Mengadakan acara beli-beli buku di Islamic Book Fair Senayan. Sebelum berangkat kami berkumpul sebentar untuk menyusun teknis keberangkatan menuju Senayan. Dan diputuskan dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama seluruh santri dan santiwati naik bus APTB dari Terminal Bubulak ke Senayan didampingi oleh Ustad O.Solihin dan Ustad Uci, sedangkan kelompok kedua Ustad Rohmad CS, Teh Yuni, Taqi, dan Bu Nur (istri Ustad O.Solihin) naik Mobil Pesantren. Rombongan Ustad Oleh dan Ustad Uci berangkat sekitar jam delapan pagi, sedangkan rombongan yang naik mobil berangkat sekitar jam delapan lebih.

Singkat cerita, rombongan yang naik mobil Pesantren sampai di lokasi sekitar jam setengah sepuluh pagi, sedangkan rombongan yang naik Bus APTB sampai di lokasi sekitar jam sepuluh pagi. Sebelum kami berpencar, kami dikelompokkan 5 orang per kelompok.

Santri yang ikut kelompok saya adalah Rizki, Ihsan, Diva, dan Taqi. Sedangkan sisanya ada di kelompok Anam.

Karena di kelompok saya ada anak kecil yaitu Taqi, saya tidak bisa leluasa memilih buku. Saya hanya menemani anggota saya untuk berkeliling mencari buku. Ihsan, santri kelas satu SMP akhirnya mendapatkan buku yang dia cari. Alma’surot seharga 1000 rupiyah. Sedangkan Rizki, Taqi, dan Diva belum mebeli buku satupun. Setelah berkeliling istora, kami berkumpul di samping Musola Ikhwan. Kami berkumpul untuk makan dan solat Dzuhur.

Karena banya orang yang hadir dalam acara IBF ini, kami harus antri untuk mengambil air wudhu. Saya dan ustad Oleh kebetulan antri dalam satu baris. Sambil menunggu antrian saya dan ustad Oleh ngobrol apa aja. Tiba-tiba ustad Oleh bilang ke saya bisa saja di coba ke bagian informasi misalnya kalau Santri Pesantren Media di tunggu di samping musola untuk makan siang, segera!” kata Ustad Oleh sekalian promosi terselubung. Nanti bisa saja orang bertanya-tanya Pesantren Media itu di mana? Hehe

Setelah menunaikan solat Dhuhur, saya berkeliling lagi. Tapi kali ini saya tidak bersama kelompok saya. Saya berkeliling bersama Anam  mencari stand Gramedia. Sangat disayangkan stand Gramedia tidak sebesar tahun lalu dan bukunya tidak sebanyak tahun lalu. Pada akhirnya saya sembarang aja nyari buku. Saya membeli buku A Long Way Gone, Guru Gokil Murid Unyu, dan Tuntunan Sholat Rosulullah.

Setelah puas berkeliling, saya mencoba saran yang Ustad Oleh katakan tadi. Saya dan Anam pergi ke ruang informasi bahwa Dihya Musa Amal Romis (saya)  santri Pesantren Media Bogor ditunggu Anam di samping Musola Ikhwan segera. Setelah menulis di daftar laporan, kami langsung masuk di ruang uatama untuk mendengarkan pengemuman tersebut. Kami hanya tertawa mendengar pengumuman tersebut.

Kami di batasi sampai jam dua siang untuk belanja buku. Sebelum jam dua, lagi-lagi saya dan Anam iseng pergi ke bagian Informasi supaya di umumkan bahwa seluruh santri Pesantren Media Bogor segera berkumpul di samping Musola Ikhwan di tunggu Ustad O.Solihin.

Setelah semua santri berkumpul, seperti biasa kami berfoto-foto untuk dokumentasi.

Kami pulang ke Bogor sekita jam dua lebih…

[Dihya Musa A.R, santri jenjang SMA, Pesantren Media]

Iklan

Penulis: Siti Muhaira

Ana Muslim, lahir di Kota Hujan pada bulan Muharram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s