Hujan Bagi Zahra #2

936743_474913352629455_925868578_n

ooOoo

Di keheningan malam tepatnya jam 11 aku terbangun. Tidak seperti biasanya perutku lapar. Kuputuskan untuk pergi ke dapur. Dengan kursi roda kulewati ruang tamu dan kamar kakak. Namun, saat melihat pintu kamar ayah sedikit  terbuka aku berhenti. Kamar ayah memang tidak jauh dengan dapur. Aku ingin memastikan apakah ayah sudah tidur atau belum.

Dari celah pintu kamar, aku kaget melihat Kak Iksan ada di kamar ayah. Ternyata ayah belum tidur. Aku mengintip mereka.

“Yah, sampai kapan kita kayak gini?” Tanya Kak Iksan kepada ayah.

“Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu.” Kataku dalam hati. Aku menguping pembicaraan mereka.

“Sabar, San. Kita harus nunggu.” Jawab ayah pelan.

“Tapi sampai kapan, Yah? Iksan udah enggak tahan lagi.” Keluh kakak.

“Sampai Zahra benar-benar sembuh.” Jawab ayah.

“Tapi, Yah. Kita enggak bisa diam terus. Zahra harus tahu semuanya!” Tambah kakak. Ayah hanya diam membisu.

“Apakah Ayah tahu, Iksan sering denger Zahra nyebut-nyebut nama Ibu waktu dia tidur. Udah berapa kali Iksan lihat dia sedih. Iksan nggak tahan lagi, Yah!” Keluh kakak. Ia tak kuasa menahan air matanya.

“Ayah ngerti, San. Tapi Ayah takut Zahra enggak kuat. Baru tiga minggu ia bangun dari koma. Ayah enggak mau dia kenapa-kenapa lagi.” Jelas ayah.

“Kalo Ayah enggak mau jelasin, biar Iksan aja, Yah.” Pinta kakak.

“Iksan, Ayah harap kamu ngerti, Nak.” Kata ayah pelan.

“Yah, kita harus kasih tahu Zahra. Dia cuma tahu, Ibu meninggal karena sakit. Padahal enggak kayak gitu. Dia kehilangan banyak ingatan tentang Ibu.” Jelas kakak.

“Iksan… Ayah mohon.” Pinta ayah.

Aku kaget mendengar pembicaraan ayah dan Kak Iksan. Aku sungguh tak percaya dengan kata-kata mereka. Mendengar perkataan mereka, rasa laparku telah hilang.

“Mana mungkin Ibu meninggal bukan karena sakit?” Tanyaku pelan. Rasa penasaran dan takut kini kurasakan. Aku tak kuat mendengar pembicaraan mereka selanjutnya. Jadi kuputuskan untuk pergi ke kamar.

Namun, sebelum aku pergi kakak keluar dari kamar ayah. Kini ia berdiri di hadapanku.

“Eh, Zahra.” Kata kakak sambil mengusap air mata di pipinya. Aku hanya tersenyum.

“Kakak ke….” Belum sempat selesai bertanya, kakak pergi meninggalkanku. Sejumlah tanya kembali muncul dalam pikiranku.

“Kakak ke…na…pa?” Lanjutku dengan terbata-bata. Karena penasaran, aku masuk ke dalam kamar ayah. Kuputuskan tak jadi balik ke kamar.

“Ayah abis berantem sama Kakak, ya?” Tanyaku pelan.

“Eh, Zahra. Sejak kapan kamu di sini, Nak?” Tanya balik ayah. Ia heran.

“Barusan kok, Yah.” Jawabku pura-pura.

“Ayah?” Tanyaku.

“Iya.” Jawabnya lembut.

“Ayah belum jawab pertanyaan Zahra.” Kataku sambil menatap ayah. Namun, ia hanya tersenyum.

“Berantem? Emang menurut Zahra, Ayah sama Kakak kenapa?” Tanya ayah. Aku diam membisu. Bingung.

“Zahra, dengerin Ayah, ya. Suatu hari nanti Zahra akan dihadapkan pada sebuah hal yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Hal itu bisa menggembirakan  atau sebaliknya. Pesan Ayah, apa pun yang Zahra hadapi, Zahra harus kuat dan enggak putus asa.”

Aku bingung dengan kata-kata  ayah.

“Seburuk apa pun itu, Zahra harus bisa melewatinya. Ingat, Allah selalu bersama kita. Zahra nggak sendiri. Ada Ayah, Ibu dan Kak Iksan.” Kata ayah sambil mengusap kepalaku lembut.

“Ya, Allah. Apa yang sebenarnya terjadi?” Batinku.

“Sekarang Zahra tidur, ya. Udah malem.” Pinta Ayah lembut.

Aku mengangguk. Ayah mencium keningku. Kuturuti permintaan ayah. Namun hatiku resah. Penuh tanda tanya.

ooOoo

Hari berikutnya Kak Iksan mengajakku pergi ke taman. Karena sudah lama tidak menghirup udara segar di sana, jadi kuputuskan menerima ajakannya. Taman yang kami datangi sungguh indah. Banyak bunga dan pepohonan yang tumbuh. Juga ada air terjun buatan yang airnya mengalir ke kolam. Angsa-angsa putih yang berenang di pinggir kolam menambah kecantikan tersendiri. Tapi aku merasa ada yang kurang di taman itu.

“Kak Iksan, kok enggak ada orang lagi di sini?” Tanyaku kepada Kak Iksan.

“Mmm, mungkin orang-orang lagi sibuk. Ini kan hari Senin.” Jawab kakak pelan. Kedua tangannya memegang tangkai kursi roda. Aku duduk di kursi itu.

“Zahra eggak seneng Kakak ajak ke sini, ya?” Tanya Kak Iksan.

“Seneng kok, Kak.” Bantahku.

“Ohya, Kak. Selain hujan, Ibu suka apa lagi?” Tanyaku pelan. Kakak kaget.

“Kalo tengah malam Ibu suka sholat tahajjud, melantunkan ayat suci Al-Qur’an, berdzikir di pagi dan sore hari, membaca buku dan pergi belanja.” Jawab kakak lembut.

“Ibu suka belanja?” Tanyaku antusias.

“Tentu. Tapi Ibu belanja seperlunya aja. Misalnya buat kebutuhan sehari-hari.” Jawab kakak.

“Oohh… gitu.” Kataku sambil tersenyum.

“Sampai suatu hari…”

Tiba-tiba kakak berhenti bicara. Aku bingung. Kulihat raut wajahnya sama persis saat dia pergi dan tidak menemaniku makan beberapa hari yang lalu. Seperti ada kesedihan dalam dirinya.

“Kakak kenapa?” Tanyaku. Kakak menghela nafas.

Aku serius memperhatikan kakak.

“Zahra?” Kakak mulai bicara.

“Iya, Kak.” Jawabku pelan.

“Sebenernya ada sesuatu yang ingin Kakak beritahu.”

“Tentang apa, Kak?” Tanyaku santai.

“Ini soal Ibu. Sebenernya Ibu meninggal bukan karena sakit.” Kata kakak. Aku kaget. Baru semalam aku mendengar kakak mengatakan hal yang sama kepada ayah. Kini aku mendengarnya lagi.

“Apa?” Kataku tak percaya. Bola mataku melebar.

“Iya. Zahra ingat, kenapa Zahra koma selama enam hari?” Tanya kakak.

“Enggak, Kak.” Jawabku. Kakak tersenyum.

“Hari itu Zahra pergi belanja sama Ibu. Ibu mau beliin jilbab baru buat Zahra. Ayah sama Kakak lagi ke rumah Pak Ridwan. Saat itu langit mendung. Ibu sempat dilarang pergi sama Ayah. Tapi Ibu bilang hari itu adalah hari yang baik.  Sampai terjadilah…”

Kakak berhenti bicara untuk yang kedua kalinya. Wajahnya merah dan ia menangis. Air matanya jatuh mengenai tanganku. Aku semakin bingung.

“Terjadi apa, Kak??” Tanyaku dengan nada suara agak kencang. Aku menatap tajam kakak. Ia menunduk.

“Kakak…!!” Teriakku. Aku mulai panik. Kakak masih diam membisu. Air matanya semakin mengalir deras.

Tiba-tiba suasana hening.

“Sampai terjadilah sebuah peristiwa yang mengejutkan kami.” Kata seseorang yang ada di belakangku dan kakak. Ternyata itu adalah ayah. Ayah baru saja sampai di taman.

“Ayah?” Kataku heran. Ayah tersenyum.

“Terjadi kecelakaan, Nak. Setelah Zahra dan Ibu ke luar dari toko, kalian menyebrang. Tapi Zahra ketinggalan. Waktu Ibu udah nyampe, Zahra masih ada di tengah jalan. Ibu panik dan balik lagi. Lalu sebuah mobil truk melaju kencang dan menabrak kalian.” Jelas ayah.

“Ib, Ibu…” Kataku terbata-bata.

Aku serius mendengarkan. Kata-katanya terlalu mengejutkanku. Hingga aliran darahku mengalir lebih cepat dari biasanya, jantungku berdegup kencang dan nafasku seakan sesak. Air mata mengalir deras di pipi. Lidahku kelu. Sesuatu seakan telah menusuk hatiku di bagian yang paling dalam.

Melihatku seperti itu, ayah tak kuasa menahan tangis. Linangan air mata membasahi kerutan di pipinya.

Lain lagi dengan Kak Iksan. Ia berusaha untuk berhenti menangis. Mencoba tenang sambil terus mengelus dadanya. Tapi ia tak bisa membohongi perasaannya. Perkataan ayah tadi telah membuatnya menangis lagi.

Aku menunduk. Menutup mata. Butiran air mata telah membasahi jilbab merah mudaku. Saat itu tangisku terisak. Tiba-tiba saja dunia gelap. Aku tak bisa melihat ayah dan Kak Iksan. Padahal tadi mereka ada di sebelahku. Juga taman yang indah dengan pepohonan dan air terjun. Semuanya tampak hitam dan gelap.

Bersambung…

Iklan

Penulis: Siti Muhaira

Ana Muslim, lahir di Kota Hujan pada bulan Muharram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s