Hujan Bagi Zahra

1391901_466792576774866_1482060908_n

[By : Siti Muhaira]

Sore itu langit mendung. Awan yang tadinya berwarna putih berubah menjadi hitam keabu-abuan. Burung-burung pipit yang biasa terbang melewati atap rumahku tak terlihat. Semilir angin berhembus menerbangkan daun-daun kering yang berserakan di pinggir jalan. Perlahan hujan turun membasahi bumi.

Kaca jendela yang ada di depanku basah oleh cipratan air hujan. Semakin lama hujan semakin deras. Daun talas di halaman rumah tak kuasa menahan air yang membanjiri bagian epidermisnya. Kedua mataku melihat ke arah luar.

Aku duduk melamun di depan jendela kamar. Tanganku memegang sehelai kain yang di bagian tengahnya ada sulaman bunga mawar dan tertulis namaku. Zahra Nur Maulida. Bunga yang bercahaya di Bulan Maulid. Sekarang umurku 13 tahun. Ayah bilang, nama itu diberikan dengan harapan agar aku selalu bercahaya.

Bercahaya karena ketaatan kepada Allah Swt. Bibir yang selalu berdzikir dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, mata yang tidak sembarangan memandang, hati yang tulus untuk bersedekah dan membantu orang lain dan wajah yang basah dengan air wudhu. Sebenarnya tidak hanya di bulan Maulid. Ayah ingin aku menjadi seorang muslimah yang meneladani istri-istri Rasulullah.

Aku juga berharap seperti itu. Tapi aku tak tahu. Sekarang kakiku tak bisa lagi bebas melangkah. Untuk berdiri saja rasanya sulit. Dokter bilang kakiku patah dan selama enam hari aku terbaring di rumah sakit. Koma. Sudah tiga minggu lebih keadaanku seperti ini. Aku rasa, butuh waktu lama untuk memulihkan kakiku.

Sore itu cukup lama aku melamun. Setiap kali melamun aku mencoba mengingat sesuatu. Sama seperti sekarang. Kupikir ada sesuatu yang telah kulewatkan. Mungkin suatu peristiwa besar. Tapi setiap aku mencobanya, rasanya hatiku sakit. Entah kenapa. Saat itu juga air mata mengalir di pipiku. Hal itu membuatku heran. Aku menangis tapi tidak tahu apa yang aku tangisi.

ooOoo

Tok! Tok! Tok!

Suara pintu yang diketuk mengagetkanku. Aku tersadar dari lamunanku. Buru-buru kuusap air mata yang masih ada di pipi.

“Assalamu’alaikum? Zah, Kakak masuk, ya?” Tanya lembut seseorang di balik pintu.

“Wa’alaikumussalam. Iy, iya, Kak.” Jawabku ragu.

Seorang laki-laki berumur 19 tahun dengan postur tubuh tinggi, berkulit putih dan memakai kemeja coklat berjalan masuk ke dalam kamarku. Kedua tangannya memegang nampan berisi semangkuk bubur sumsum dan segelas susu coklat hangat. Laki-laki itu adalah kakakku. Muhammad Iksan Dafa. Itulah namanya. Aku biasa memanggilnya Kak Iksan.

“Zah, udah waktunya makan. Ini, Kakak bawain bubur sum-sum sama susu coklat. Spesial buat Zahra.” Kata kakak sambil menaruh nampan di atas meja.

“Iya, Kak. Makasih. Kakak baik banget sama Zahra.” Kataku sambil tersenyum. Kucoba bertingkah seperti biasa.

“Jelas dong, Zah. Kakak kan emang baik hati dan tidak sombong.” Kata kakak percaya diri.

“Ih, Kak Iksan PD banget deh.” Kataku geli.

“Loh, kita harus jadi orang baik dan tidak sombong. Iya, kan?” Tanya Kak Iksan sambil berjalan mendekatiku.

“Emangnya Zahra enggak mau kayak gitu?” Tanyanya lagi.

“Zahra mau kok.” Bantahku. Mendengar jawaban itu Kak Iksan tersenyum. Namun senyuman itu tak berlangsung lama. Kak Iksan duduk di atas kasur sambil memperhatikan wajahku.

“Zah, kamu kenapa? Kok wajahnya sembab? Abis nangis?” Tanya Kak Iksan penasaran. Aku kaget. Aku langsung memalingkan wajahku ke jendela.

“Enggak kenapa-kenapa kok, Kak.” Kataku pura-pura.

“Tadi Kakak lihat matanya merah?” Tanya kakak heran.

“Emm, tadi mata Zahra kemasukan debu, Kak.” Jawabku pelan sambil menatap Kak Iksan dengan harapan ia percaya padaku.

“Yang bener?” Kakak masih tak percaya. Aku mengangguk. Kak Iksan diam dan menunduk. Melihatnya seperti itu aku bingung.

“Kakak?” Tanyaku. Ia bangkit dari kasur kemudian jongkok di depanku. Kedua tangannya memegang pundakku.

“Zahra, maafin Kakak, ya? Hari ini Kakak enggak bisa nemenin kamu makan. Kakak ada janji sama teman.” Kata kakak pelan. Aku semakin bingung.

“Iya, Kak. Enggak apa-apa.” Jawabku sambil menatap wajahnya. Kulihat raut wajah kakak berubah. Matanya berkaca-kaca dan terlihat seperti orang yang sedang sedih. Tapi aku tak tahu kenapa.

“Makanannya jangan lupa dimakan, ya.” Pinta kakak. Aku mengangguk.

”Kalo gitu, Kakak pergi dulu.” Kata Kak Ikhsan. Kemudian ia berjalan meninggalkanku. Aku terus memperhatikannya.

“Ya Allah, ada apa dengan Kakak?” Batinku.

Aku tak mengerti kenapa kakak seperti itu. Puluhan tanya menghampiri pikiranku. Di dalam hati aku menyesal karena telah membohongi kakak tadi.

ooOoo

Dua hari setelah itu hujan tak lagi turun. Tak ada lagi air hujan. Kaca jendela kamarku tak basah lagi. Sungguh berbeda dengan dua hari sebelumnya. Ayah dan Kak Iksan sibuk meletakkan barang di ruang tamu. Sedangkan aku duduk di kursi roda sambil melihat langit dari jendela ruang tamu. Hari ini ayah telah membeli beberapa barang.

“Ada apa, Zahra?” Tanya ayah lembut. Aku sedikit kaget.

“Eh, Ayah. Zahra rindu sama hujan, Yah.” Jawabku pelan.

“Hujan?” Tanya ayah bingung.

“Iya, udah dua hari hujan enggak turun.” Kataku sambil menatap ayah.

“Emangnya Zahra suka hujan?” Tanya ayah penasaran.

“Iya. Karena hujan bagi  Zahra bukan sekedar air, Yah. Hujan itu rahmat dari Allah yang harus disyukuri. Air yang berasal dari hujan bisa menumbuhkan biji-bijian dan tanaman. Setelah tumbuh besar, tanaman itu bisa memberikan manfaat untuk kita.” Jelasku. Ayah serius mendengarkan.

“Oh… jadi karena itu.” Kata ayah.

“Ayah, bukannya Ibu juga suka hujan?” Tanyaku santai. Ayah kaget.

“Dari mana Zahra tahu?” Tanya ayah penasaran.

“Dari Kakak.” Jawabku sambil melihat kakak yang sedang meletakkan meja di sudut ruangan.

“Kakak bilang, Ibu juga suka. Tapi Ibu enggak pernah ngizinin Kakak main hujan-hujanan. Iya kan, Kak? Tanyaku. Kakak kaget. Ia berhenti meletakkan barang kemudian melihat ke arahku.

“Mmm, iy, iya.” Jawab kakak ragu. Kemudian ia dan ayah saling menatap. Serius. Aku bingung.

“Ayah? Kak Iksan?” Kataku heran. Kulihat masing-masing wajah mereka yang terlihat aneh.

“Ayah…!” Kataku dengan nada suara sedikit keras. Ayah dan Kak Iksan kaget.

“Ayah sama Kak Iksan kenapa?” Tanyaku kesal.

“Oh, kami enggak kenapa-kenapa, Sayang.” Kata ayah sambil menggelengkan kepala. Kak Iksan hanya diam membisu. Hening.

Kemudian ayah dan Kak Iksan kembali meletakkan barang. Aku semakin bingung dengan tingkah mereka.

“Sungguh aku tak mengerti. Sebenarnya ada apa?” Tanyaku dalam hati.Tiba-tiba  aku rindu pada ibu.

Bersambung…

Iklan

Penulis: Siti Muhaira

Ana Muslim, lahir di Kota Hujan pada bulan Muharram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s