Tafsir Al-Quran Surat ‘Abasa ayat 16-20

ndz_3380

[Siti Muhaira] Tafsir Al-Quran Surat ‘Abasa ayat 16-20

  • Ayat 16 :

80:16

Dalam Tafsir Jalalain ayat ini artinya : Yang mulia lagi berbakti. Maksudnya adalah semuanya taat kepada Allah SWT. Siapa yang taat? Mereka itu adalah malaikat-malaikat. Tidak seperti tafsir-tafsir lainnya. Tafsir Jalalain hanya menerangkan sedikit saja maksud dari ayat tersebut.

Sedangkan dalam tafsir Al Azhar artinya: “Yang mulia-mulia, yang berbakti.” Maksudnya adalah bahwa malaikat yang menyampaikan ayat-ayat sabda Tuhan itu kepada Manusia “Mushthafa”, Pilihan Tuhan itu. Dalam tafsir Ibnu Katsir yang dimaksud dengan  Yang mulia lagi berbhakti itu yakni perangai mereka sangat mulia lagi baik. Akhlak dan perbuatan mereka amat sangat jelas, suci, dan sempurna. Bertolak dari sini maka orang yang mengemban Al Qur’an hendaklah perbuatan dan ucapannya benar-benar tidak menyimpang dan lurus.

Imam Ahmad Ahmad meriwayatkan dari Aisyah ra, dia berkata : Rasulullah Saw : Orang yang membaca Al Qur’an sedang dia pandai membacanya adalah bersama para Malaikat yamg Mulia lagi berbakti. Dan orang yang membaca Al Qur’an sedang dia merasa kesulitan, maka baginya dua pahala. (diriwayatkan oleh al- Jama’ah melalui jalan Qatadah).

  • Ayat 17 :

80:17

Arti dalam Tafsir Jalalain adalah (binasalah manusia) maksudnya terlaknatlah orang kafir itu (alangkah sangat kekafirannya). Allah Ta’ala berfirman seraya mencela beberapa orang anak cucu Adam yang mengingkari hari kebangkitan dan dikumpulkannya para makhluk. Istifham atau kata tanya pada ayat ini mengandung makna celaan; makna yang dimaksud adalah, apakah gerangan yang mendorongnya berlaku kafir?

Dalam Tafsir Al Azhar artinya “Celakalah Insan!” Ini adalah satu ungkapan sesalan dari Tuhan yaitu Allah SWT kepada manusia. “Alangkah sangat kufurnya.” (ujung ayat  17). Adakah patut manusia itu masih juga kufur kepada Tuhan. Masih juga tidak mau menerima kebenaran yang dibawa Rasul. Sedangkan dalam Tafsir Ibnu Katsir Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ‘Qutilal insaanu’ artinya binasalah manusia, yakni terkutuklah manusia.

Demikian juga yang dikemukakan oleh Abu Malik. Dan itulah jenis manusia yang suka berbuat dusta, karena terlalu banyak mendustakan hari berbangkit tanpa sandaran yang jelas.  Bahkan hanya sekadar menjauhi saja dan tidak didasari oleh suatu ilmu. Mengenai Firman-Nya, ‘maa akfarah’  yang artinya “alangkah amat sangat kekafirannya”. Ibnu Juraij mengatakan maksud ayat ini yaitu sungguh sangat parah kekafirannya itu. Sedangkan ibnu Jarir mengemukakan bisa jadi hal itu berarti apakah yang membuatnya kafir? Atau apakah Yang membuatnya mendustakan hari berbangkit?”.

Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan kepadanya bagaimana Dia dulu menciptakannya dari sesuatu yang hina, dan bahwasannya Dia sanggup untuk mengembalikannya seperti awal Dia menciptakan. Oleh karena itu Allah berfirman:

  • Ayat 18 :

80:18

Dalam Tafsir Al-Azhar ayat ini artinya : “Daripada apa Dia menjadikannya?” Insan tadi masih saja menyombong. Daripada apa Allah menjadikan atau menciptakan manusia?

Kemudian dalam Tafsir Jalalain ayat ini artinya “Dari apakah Allah menciptakannya?” Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Taqrir.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir Allah berfirman, dari apakah Allah menciptakannya? dari setetes mani.  Allah menciptaknanya lalu menentukannya. Maksudnya dia tentukan ajal dan amalnya, serta apakah dia akan sengsara atau bahagia.

  • Ayat 19 :

80:19

tafsir Jalalain ayat ini mengandung arti : (Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya) menjadi ‘alaqah, kemudian menjadi segumpal daging hingga akhir penciptaannya.

Sedangkan dalam tafsir Al-Azhar artinya itu adalah

 “Dari nuthfah Dia telah menjadikannya”. Nuthfah itu adalah segumpalan air yang telah menjadi kental, gabungan yang keluar dari shulbi ayah dengan yang keluar dari taraib ibu. Dari itu asal mula manusia dijadikan; Dan Dia mengaturnya.” (ujung ayat 19).

Dari sanalah asal kejadian itu; yakni dipertemukan air bapa dengan air ibu, bertemu di dalam rahim ibu, lalu berpadu jadi satu, menjadi satu nuthfah, yang berarti segumpal air. Setelah 40 hari pula sesudah itu dia pun menjelma men­jadi segumpal daging.

Hal yang demikian diperingatkan kepada manusia untuk difikirkannya bahwa kekufuran tidaklah patut, tidaklah pantas. Di ayat pertama dari Surat al-Insaan (Manusia) pun telah diperingatkan bahwa jika direnungkan benar-­benar, tidaklah ada arti manusia itu bilamana dibandingkan dengan alam lain sekelilingnya. (Ingat lagi ayat 27 dari Surat an-Nazi’at yang baru lalu).

79:27

“Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya”.

Maka tidaklah patut manusia kufur. Tidaklah patut manusia ingkar dari kebesaran Tuhan, kalau manusia mengingat betapa di waktu dahulu dia terkurung di dalam rahim ibu yang sempit itu dan dipelihara menurut belas kasihan Allah di tempat itu.

  • Ayat 20 :

80:20

Tafsir Jalalain mengartikan ayat ini dengan : (Kemudian untuk menempuh jalannya) yakni jalan ia keluar dari perut ibunya (Dia memudahkannya.) Sedangkan dalam tafsir Al-Azhar artinya “Kemudian Dia mudahkan jalan keluarnya.” Dimudahkan jalan keluar buat hidup dan datang ke dunia. Dimudahkan pintu keluar dari rahim itu sampai terlancar dan terluncur keluar. Dimudahkan terus persediaan buat hidup dengan adanya air susu yang disediakan pada ibu di waktu kecil. Di­bimbing dengan cinta kasih sampai mudah tegak sendiri di dalam hidup melalui masa kecil, masa dewasa, masa mencari jodoh teman hidup, masa jadi ayah, masa jadi nenek atau datuk.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir artinya : ”kemudian dia memudahkan jalannya”. Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘abbas, kemudian dia mempermudah keluarnya dari perut ibunya. Dan demikian juga yang dikemukakan oleh ‘Ikrimah, adh-Dhahhak, Abu shalih,Qatadah ,as –Suddi, dan menjadi pilihan ini Jarir dan juga Mujahid berkata demikian. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat al-Insaan ayat 3. Yang artinya: Sesungguhnya kami telah memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, maka apakah yang demikian akan disyukuri atau diingkari?. Maksudnya, Allah telah jelaskan dan mudahkan kepadanya. Demikianlah yang dikatakan al-Hasan dan Ibnu Zaid, dan inilah yang lebih kuat.

Artikel mengenai Surat Abasa ( Sumber:dakwatuna.com)

Arti dari Surat Abasa ayat 16 adalah  ‘Alangkah amat sangat kekafirannya!”

Alangkah kafir dan ingkarnya dia terhadap masalah kejadian dan penciptaan dirinya. Kalau dia mau memikirkan masalah-masalah ini, niscaya dia akan bersyukur kepada Penciptanya, akan tawadhu di dalam urusan dunianya, dan akan sadar terhadap akhiratnya. Nah, kalau tidak begitu, maka mengapakah dia sombong, congkak, dan berpaling? Siapakah dan apakah dia itu? Dari mana asalnya, dan apa bahan penciptaan dirinya?

“Dari apakah Allah menciptakannya?” (‘Abasa: 18)

Dia berasal dari sesuatu yang hina dan tak ber­harga. Kemudian nilainya menjadi meningkat karena karunia, nikmat, penentuan, dan pengaturan-Nya,

”Dari setetes mani Allah menciptakan dan menentu­kannya. “(‘Abasa: 19)

Dari sesuatu yang tidak ada harganya sama sekali, dari bahan pokok yang tidak ada nilainya. Akan tetapi, Penciptanyalah yang menentukannya dengan menciptakan dan mengaturnya. Dia menentukannya dengan memberinya harga dan nilai, menjadikannya makhluk yang sempurna, dan menjadikannya makh­luk yang mulia, serta mengangkatnya dari asal usul yang hina dan rendah ke tempat dan kedudukan tinggi yang untuk HAAnyalah bumi dengan segala sesuatunya diciptakan.

”Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (‘Abasa,: 20)

Direntangkan untuknya jalan kehidupan, atau di­bentangkan untuknya jalan petunjuk, dan dimudah­kan baginya untuk menempuhnya dengan peralatan­-peralatan dan potensi-potensi yang diberikan-Nya, baik untuk menempuh kehidupan maupun menem­puh hidayah tersebut.

Hingga apabila perjalanan hidup sudah berakhir, maka berkesudahanlah kehidupan dan aktivitasnya sebagaimana yang dialami oleh semua makhluk hidup, tanpa ada pilihan lain dan tanpa dapat meng­hindar.

Artikel yang kedua :

Ayat 16. Artinya “Yang mulia, berbudi baik.”

Kata safarah berarti baik seorang utusan dan seorang penulis atau penyalin.

Allah Ta’ala berfirman, bahwa semua penyalin Qur’an Suci itu adalah orang yang terhormat, terkemuka, unggul dan saleh. Tidak, bahkan para sahabat yang suci selebihnya

yang bertindak sebagai perantara dan utusan antara nabi Suci dan umatnya (karena melalui tangan mereka itulah maka Qur’an Suci sampai kepada umat), semuanya sangat terhormat dan saleh. Akibatnya adalah bahwa karena al-Qur’an itu dijadikan dalam bentuk tertulis oleh tangan segolongan sesepuh dan diteruskan kepada umat oleh orang-orang dengan kepribadian semacam ini yang semuanya terhormat, saleh, tulus dan berakhlak mulia, maka Qur’an Suci itu tetap seluruhnya selamat dan tak ternoda.

Di sini, ada suatu hal yang patut direnungkan oleh kaum Syi’ah dan Khawarij. Yakni, bahwa Allah Ta’ala Sendiri, telah berdiri saksi atas fakta bahwa orang-orang yang menulis al-Qur’an dan menyiarkannya kepada yang lain (termasuk di antaranya Hazrat Abu Bakar, Umar, Ali dan Usman, serta mereka yang secara khusus termasuk dalam penghimpun dan penulis  al-Quran), semuanya adalah hamba Allah yang terhormat, terpercaya, saleh dan tulus. Maka, barang-siapa yang mempertanyakan integritas dari teks al-Qur’an serta ketulusan dari para Sahabat yang suci maka mereka itu sesungguhnya menolak kesaksian yang terang dari Allah Sendiri.

Memang benar bahwa karena al-Qur’an itu adalah kitab yang terhormat dan suci, lalu mengapa para penyalinnya yang menyampaikan kepada yang lain tidak murni dan suci pula? Jadi, apa maksud dibalik menulis kitab ini dengan sangat hati-hati serta pengaturannya dalam menyampaikan kepada umat kecuali agar setiap Muslim bisa menarik manfaat dari itu dan harus menganggap perintahnya lebih tinggi dan lebih unggul di banding segala perintah yang lainnya?

17. Celaka sekali manusia itu! Alangkah tak berterima kasihnya dia!

Siapakah yang lebih tak bersyukur daripada seseorang yang setelah diberi warisan serta menemukan anugerah seperti Qur’an Suci lalu tidak berbuat menurut itu dan menghindar dari petunjuk yang besar itu, suatu petunjuk dimana bergantung kehormatan dan kejayaan seluruh umat manusia? Orang semacam itu sesungguhnya secara ruhani sudah mati. Ungkapan “qutilal amanu” berarti “Celaka sekali manusia itu”. Ini juga bisa berarti “semoga matilah manusia semacam itu” tetapi ini rasanya kurang cocok untuk menerapkan suatu doa kutukan dari Yang Maha-kuasa.

Allah Ta’ala sekarang menerbitkan peristiwa dari dunia fisik untuk memperagakan kejatuhan manusia dari kedudukan yang terhormat serta terkemuka menjadi seorang yang terkucil akibat tidak tahu berterima-kasih.

18. Dari barang apakah Ia menciptakan dia?

19. Dari benih manusia yang kecil. Ia menciptakan dia, lalu Ia menentukan ukurannya.

20. Lalu Ia menjadikan jalan mudah baginya.

Inilah gaya Qur’an Suci: dia menarik argumen dengan menggambarkan analogi antara dunia materi dengan kerajaan ruhani atau dari kehidupan di luar dengan kehidupan di dalam.

Ini adalah konsep yang bisa diterima diantara ilmuwan dan ahli jiwa bahwa dunia yang nampak dan dunia bawah sadar itu mengandung suatu persamaan yang intens dan kemiripan satu sama lain serta paralel kepada yang lain. Karena itu, tak ada cara yang lebih baik selain daripada mengajukan berbagai bukti analogi dan argumen yang menunjukkan suatu persamaan antara dunia luar dengan dunia ruhani. Di sini, Allah telah menarik perhatian manusia atas kelahirannya dengan mengatakan: lihatlah dari bahan apa kalian diciptakan – dari sebuah sel sperma!

Nutfah harfiahnya berarti suatu benda yang menjijikan dan tidak penting. Pendeknya, Allah Ta’ala telah menarik perhatian manusia kepada fakta bahwa dia telah diciptakan dari benda yang sangat tidak penting, nutfah (sel sperma) yang bahkan ketika dia membentuk diri dalam rahim seorang ibu, ini demikian kecil dan sepele sehingga ini bahkan tak bisa dilihat kecuali dengan pertolongan mikroskop. Namun, Allah Yang Maha-tinggi, dalam pengetahuan-Nya yang meliputi segalanya telah mengaruniai sel yang kecil ini dengan kekuatan yang tertanam dan unggul di dalamnya serta kemampuan yang ketika itu mulai tumbuh setelah membangun suatu hubungan dengan rahim, maka manusia mengembangkan kekuatan fisik dan mental yang menakjubkan, yang dengan memanfaatkan kemampuan tersebut maka dia bisa menguasai lautan, angin, kilat, pendeknya, terhadap segala ciptaan Allah di alam semesta ini.

Maka, bila benar bahwa Allah telah menyiapkan sarana untuk pertumbuhan dan pengembangan jasad fisik manusia dari kondisi yang tidak penting dan lemah serta dengan kekuasaan-Nya membuat anggota badannya tumbuh, lalu Dia menjadikannya berubah menjadi makhluk yang penuh kekuatan, maka Dia pasti juga menyediakan bagi pertumbuhan dan pengembangan ruhani manusia, dan meletakkan suatu jalan baginya dan dengan menyusuri jalan tersebut manusia dapat menjadikan kemampuan spiritualnya tumbuh dan berkembang. Jal an ini tiada lain adalah al-Qur’an ini. Bila manusia menolak kitab ini dan mengingkari petunjuknya maka dia ditakdirkan untuk binasa. Dengan kehancurannya berarti bahwa kemampuan ruhaninya tidak tumbuh dan berkembang dan dia tetap tersingkir dari kehormatan dan kejayaan spiritual, suatu kedudukan yang seharusnya diraih demi tujuan penciptaannya.

Suatu hal yang perlu dipertimbangkan di sini adalah bahwa dalam ayat-ayat ini Allah telah berfirman: “fa qaddarahu” (Dia menumbuhkan sesuai ukurannya) setelah menyatakan “khalaqahu” (Ia menciptakan dia). Huruf fa diselipkan antara dua kata ini, yang berarti bahwa benda yang penciptaannya disebutkan dalam khalaqahu adalah sama dengan benda yang dibuat rujukannya dalam ungkapan “fa-qaddara-hu”, yakni, mendapatkan kekuatan dan tenaga. Tetapi belakangan, ketika disebutkan: membuatkan jalan yang mudah baginya, di sana Allah menggunakan kata “thumma” sebagai ganti “fa”, yakni, Dia berfirman: “Kemudian membuat jalan mudah baginya”.

Alasan untuk ini ialah bahwa dalam kata “thumma” (kemudian) di dalamnya juga mengandung implikasi suatu perubahan keadaan. Jadi, dengan menggunakan kata “thumma”, maksudnya adalah untuk membuat kita mengetahui bahwa jalan yang ditempuh.selanjutnya, yakni, Kemudian dia membuat jalan mudah baginya, adalah satu hal yang berbeda dengan satunya lagi yang dibicarakan dalam ayat sebelumnya: Ia menciptakan dia, lalu ia menentukan ukurannya. Yakni untuk menyatakan, bahwa jalan kedua ini adalah spiritual dan bukan fisik.

Sebelum kata “thumma”, ayat itu berbicara tentang pertumbuhan dan perkembangan jasmani. Setelah kata ini, Allah ingin menarik perhatian kita kepada perkara lain, yakni, bahwa bila Allah telah membuat sel sperma itu tumbuh dan berkembang menjadi orang kuat yang memerintah ciptaan yang lain di alam semesta ini, lantas kenapa Dia tidak membuat persiapan untuk aspek yang lain, sebutkanlah pertumbuhan dan pemeliharaan ruhani manusia tersebut? Untuk hal ini Dia juga menyediakan suatu jalan, dan membuatnya mudah. Yakni untuk dikatakan, meskipun Allah telah menganugerahi manusia dengan kemampuan yang menjadikan dia mampu membedakan antara baik dan buruk, namun bila manusia telah meninggalkannya dan hanya bergantung kepada kecerdasan, persepsi dan pemahaman sendiri saja, jalan ini akan menjadi sangat sukar baginya, karena petunjuk yang didapat dari kecerdasan saja tidak akan cukup dan bebas dari jebakan serta kesesatan. Karena itu, langkah ini dibuat mudah baginya melalui wahyu Ilahi.

Dengan kata lain, Allah Ta’ala, dalam ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, datang untuk membantu manusia dan Qur’an Suci mengambil rantai wahyu Ilahi ini menuju kesempurnaannya.

Jadi, seperti halnya sperma kehidupan, bila dia tiba di bawah pembentukan rencana hukum Allah, disamping keadaannya yang sangat tak berarti dan kecil, bisa berkembang menjadi makhluk manusia yang jaya dan berkuasa, begitu pula, bila pribadi manusia itu menapak menyusuri jalan yang telah ditunjukkan oleh wahyu dari Allah, serta mematuhi perintah dan hukum-Nya, maka tak ada alasan mengapa ini juga tak bisa meraih kesempurnaan.

Iklan

Penulis: Siti Muhaira

Ana Muslim, lahir di Kota Hujan pada bulan Muharram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s