Tafsir Surat An-Naba ayat 34-36

579153_411748308896458_2024918140_n

78:34

78:35

78:36

Artinya :

34. dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).

35. di dalamnya mereka tidak mendengar Perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) Perkataan dusta.

36. sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.

Tafsir Ibnu katsir  

                Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud dalam ayat ke 34  ialah yang penuh-penuh lagi berturut-turut sedangkan menurut Ikhrimah, makna yang dimaksud ialah yang jernih minumannya. Mujahid, Al-Hasan, Qatadah dan Ibnu Zaid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya :

$]%$ydϊ ÇÌÍÈ

Yang penuh (berisi minuman). (An-Naba:34)

Yakni penuh berisi minuman lagi menyenangkan. Mujahid dan Sa’id ibnu Jubair mangatakan berturut-turut. Firman Allah Swt :

žw tbqãèyJó¡o„ $pkŽÏù #Yqøós9 Ÿwur $\/º¤‹Ï. ÇÌÎÈ

Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta.(An-Naba’:35)

Semakna dengan firman-Nya:

Ÿw tbqãèyJó¡o„ $pkŽÏù #Yqøós9 Ÿwur $¸J‹ÏOù’s? ÇËÎÈ

Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan  yang menimbulkan dosa. (Al-Waqi’ah:25)

Yaitu di dalam surga tidak terdapat perkataan yang sia-sia tiada faedah/manfaatnya, dan tidak pula perkataan yang berdosa (yakni dusta) , bahkan surga adalah negeri kesejahteraan, dan semua yang ada di dalamnya bebas dari segala bentuk kekurangan.

Firman Allah Swt:

   [ä!#t“y_ `ÏiB y7Îi/¢‘ ¹ä!$sÜtã $\/$|¡Ïm ÇÌÏÈ

Sebagai dari balasan Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak. (An-Naba:36)

Semua yang telah disebutkan di atas merupakan dari Allah yang diberikan-Nya kepada mereka sebagai karunia , kebaikan, dan rahmat-Nya kepada mereka.

 ¹ä!$sÜtã $\/$|¡Ïm ÇÌÏÈ

Dan pemberian yang cukup banyak (An-Naba:36)

Yakni yang cukup, sesuai, utuh, lagi banyak.  Orang Arab mengatakan A’tani fa-ahsabani, yakni dia memberiku dengan pemberian yang cukup banyak. Dan termasuk dalam pengertian ini ucapan Hasbiyallah, yang artinya ‘cukuplah Allah yang sebagai Pelindungku’.

Sedangkan dalam Tafsir jalalain disebutkan,

Pada ayat ke-34 : (Dan gelas-gelas yang penuh) berisi khamar. Dan di dalam surat Muhammad disebutkan pada salah satu ayat-Nya, yaitu ayat ke 15 :

ã֍»pk÷Xr&ur ô`ÏiB 9÷Hs~ ;o©%©! tûüÎ/̍»¤±=Ïj9

“… sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya.” (Q.S. Muhammad, 15)

Ayat 35 :  (Di dalamnya mereka tidak mendengar) yakni di dalam surga itu sewaktu mereka sedang meminum khamar dan merasakan kelezatan-kelezatan lainnya (perkataan yang sia-sia) perkataan yang batil (dan tidak pula dusta) jika dibaca Kidzaaban artinya dusta, jika dibaca Kidzdzaaban artinya kedustaan yang dilakukan oleh seseorang kepada yang lainnya, keadaannya berbeda dengan apa yang terjadi di dunia sewaktu khamar diminum.

Ayat 36  : (Sebagai balasan dari Rabbmu) dari Allah swt. memberikan hal tersebut kepada penghuni-penghuni surga sebagai pembalasan dari-Nya (dan pemberian) menjadi Badal daripada lafal Jazaa-an (yang cukup banyak) sebagai pembalasan yang banyak; pengertian ini diambil dari perkataan orang-orang Arab: A’thaanii Fa’ahsabanii, arti-Nya, “Dia memberiku dengan pemberian yang cukup banyak.” Atau dengan kata lain bahwa memberikan pemberian yang banyak kepadaku sehingga aku mengatakan, “Cukuplah!”

          Dan yang selanjutnya adalah menurut Tafsir Al Azhar :

Ayat 34 : “Dan piala yang melimpah-limpah.” Oleh sebab itu minuman senantiasa diedarkan dan tidak pernah kekurangan, sehingga seketika mengisikan dan tempatnya ke dalam piala, sampai melimpah karena penuhnya.

Niscaya datang pertanyaan: “Apa di surga ada minuman keras?” “Tentu bukan minuman yang menyebabkan mabuk dan hilang akal sebagai di dunia ini.”

Kemudian datang lagi ayat berikutnya yang membedakan suasana surga dengan suasana dunia ini, yaitu pada ayat 35 : “Tidak akan mereka dengar padanya kata-kata yang sia-sia dan tidak pula kata-kata dusta.”

Tepat sekali ayat 35 ini sebagai pengiring dari ayat 34 yang menerangkan bahwa di taman-taman dan kebun-kebun yang indah itu dilengkapi dengan perawan-perawan jelita yang banyak dan sebaya semua.

                Jika di dunia ini taman-taman cinta birahi yang kaya dengan segala buah-buahan dan anggur, minuman berbagai rupa, perempuan cantik yang menggiurkan dan menimbulkan nafsu, barulah meriah bila orang telah mabuk-mabuk. Orang meminum tuak dan segala minuman keras ialah untuk menghilangkan rasa malu di dalam berbuat segala macam kecabulan. Keluarlah di sana segala perkataan kotor dan jijik.

                Lantaran itu sekali-kali tidaklah serupa nikmat kediaman di surga itu dengan “nikmat” yang dirasakan di dunia sekarang ini. Orang tua 75 tahun karena dia kaya-raya berbini muda usia 20 tahun di dunia ini sama dengan hidup di neraka! Yang ada dalam surga adalah kedamaian fikiran, ketenangan dan tenteram, tidak terdengar kata-kata sia-sia, sebagai banyak terdengar di dunia ini dan tidak pula mendengar kata-kata bohong, yang selalu dipergunakan orang untuk suatu kesenangan dan kemegahan bagi sendiri. Sehingga dapat dikatakan bahwa kesenangan duniawi, barulah didapat bila mau korupsi!

                Diingatkan sekali lagi, bahwa semuanya ini adalah: “Ganjaran dari Tuhan engkau.” (pangkal ayat 36). Disebutkan ini agar kita dapat memperbedakannya dengan kepelisiran di dunia, yang sebagian besar bukan karena ganjaran Tuhan, melainkan ganjaran syaitan, yang akhirnya bukan nikmat, melainkan niqmat,  alangkah jauh beda di antara nikmat dan niqmat: “Pemberian yang cukup tersedia.” (ujung ayat 36). Artinya tidak pernah kering, tidak pernah tohor, seimbang di antara tenaga diri yang diberikan Allah dengan nikmat yang tersedia di luar diri itu. Bukan seperti yang terdapat di dunia tadi, seumpama kepelesiran yang berganda-lipat, dengan gadis-gadis remaja yang menggiurkan, namun bagi seorang yang usianya telah tua, hanya menyebabkan tetes air liur saja.

 

Menurut Artikel yang saya temukan di blog The Nafi’s Story :

Pada ayat 34 : Wa ka’saan dihaaqaa.

“dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).” (Q.S. An-Nabaa: 34)

ka’” itu artinya gelas yang berisi minuman keras. G  elas yang berisi air putih biasa tentunya tidak bisa dinamakan “ka’”, karena memang isinya bukan minuman keras. Gelas yang tidak berisikan minuman keras dinamakan “kud” ataupun “aqwaab” artinya gelas-gelas. Tapi kalau dikatakan “ka’” itu artinya gelas yang berisi minuman keras. Jadi, di hari kemudian nanti orang akan minum minuman keras. Tetapi berbeda minuman dengan minuman keras di dunia ini.

Kata “dihaaqaa” artinya yang penuh. Jadi arti dari “ka’saan dihaaqaa” adalah gelas-gelas yang penuh berisi minuman. Apakah gelas yang penuh itu otomatis berisi minuman? Tentunya tidak bisa kita gambarkan. Gelas-gelas yang berisi permata, apakah bisa? Tentunya tidak tepat.

Ini berarti jika dikaitkan dengan ayat lain, “wa aqwaabun maudhu’a” artinya gelas-gelas yang diletakkan yang sesuai dengan selera yang mau minum. Jadi kalau “aqwaab” boleh jadi isinya air putih, teh, anggur, atau susu, dan semua diletakkan dan diberikan sesuai dengan selera.

Kalau “ka’saan” sudah tertentu isinya, yaitu gelas yang berisi minuman keras. Gelas itu “dihaaqa”, pertama artinya “penuh”, dan juga ada juga yang mengartikan “berturut-turut”. Belum puas satu gelas, datang lagi gelas yang lain, belum puas, datang lagi gelas yang lain.

Sedangkan pada ayat 35 : Laa yasma’uuna fiihaa laghwaan wa laa kidz-dzaabaa.

 “Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta.” (Q.S. An-Nabaa: 35)

“Di dalamnya”, maksudnya di dalam apa? Apakah di dalam surga atau di dalam mana? Ada yang mengartikan, dan mudahan-mudahan ini baik: “di dalam gelas itu tidak ada sesuatu yang menjadikan orang yang meminumnya melakukan sesuatu yang sia-sia atau kebohongan.”

Inilah bedanya gelas yang penuh dengan minuman keras di surga dengan gelas yang penuh dengan minuman keras di dunia. Bedanya, kalau yang di dunia, dalam minuman keras itu terdapat zat yang bisa membuat orang yang meminumnya menjadi ngomong melantur, bohong, dan sebagainya.

Laa yasma’uuna fiihaa kalau diartikan di surga juga betul. Tapi sebenarnya ayat ini pada kata “nya” itu adalah menunjuk pada kata yang terdekat dari “nya” tersebut, yaitu “ka’saan” atau gelas itu, bukan surga.

Apa artinya “”laghwaan”? itu artinya adalah sesuatu yang sewajarnya tidak ada. Dia belum tentu haram. Tetapi tidak pantas ada. Contohnya: pada shalat Jum’at, khatib sedang khutbah, kemudian si-A menegur si-B yang ada di dekatnya yang saat itu sedang berbicara, “Hei B jangan berbicara!” Teguran dan larangan si-A terhadap si-B itu apakah haram? Tentunya tidak haram menegur dan melarang seperti itu.

Kita berbicara ketika khatib berkhutbah pada Shalat Jum’at, kita menegur dan melarang orang yang sedang berbicara ketika khatib berkhutbah, apakah haram? Tentunya juga bukan haram. Tetapi itu dinamakan Rasulullah dengan “laghwaan”: “Izaa kul talishahibika yaumal jumuati anshit faqad laghaw”. Dalam kehidupan keseharian kita di dunia ini sering kali terlalu banyak perbuatan ataupun ucapan yang kita lakukan walaupun tidak haram tapi tidak ada gunanya. Orang yang minum minuman keras biasanya melantur omongannya. Bisa jadi omongannya benar, tetapi itu tidak pantas diucapkan.

Sedangkan di surga, seseorang tidak mendengar perkataan yang sia-sia, dan tidak pula perkataan dusta. Perkataan dusta itu adalah perkataan yang haram. “tidak mendengar”, bukan dikatakan “tidak mengucapkan”. Di sana kita tidak mendengar ucapan yang sia-sia. Contohnya: Saya lagi belajar, kemudian tidak jauh dari saya dalam waktu yang bersamaan ada orang yang menghafal Al-Qur’an tapi dengan suara yang keras. Apakah saya yang sedang belajar terganggu? Ya, tentunya saya terganggu.

                Nah, kita di surga tidak mendapat gangguan apapun, apalagi kebohongan. Kita menikmati apa yang kita ingin dengarkan. Kita ingin mendengarkan radio, kemudian ada storing, itu dinamakan “laghwaan”.

Pada ayat 36 : Jazaa-an min rabbika ‘athaa-an hisaabaan.

 “Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (Q.S. An-Naba: 36)

jazaa” artinya “pembalasan”. Membalas (memberi imbalan), sebenarnya adalah sesuatu yang diberikan akibat atau sebagai dampak dari apa yang kita lakukan.

“ ‘athaa-an” artinya adalah “pemberian tanpa ada sesuatu yang kita lakukan”. Contohnya: Ketika saya sedang berjalan, kemudian saya lihat ada pengemis, lalu saya memberi pengemis itu uang. Apakah yang saya berikan itu imbalan atau bukan? Itu bukan imbalan.

Ada persoalan di kalangan ulama, bahwa surga itu apakah imbalan atau pemberian? Apa yang telah kita lakukan, sehingga surga itu menjadi imbalan? Apakah kita bisa menuntut Tuhan jika kita tidak diberikan surga? Apakah yang selama ini kita kerjakan, sehingga kita patut mendapat imbalan berupa surga dari Tuhan?

Kalau dikatakan bahwa surga itu adalah “jazaa-an” (imbalan), nanti ada problemanya. Kalau kita katakan itu adalah “jazaa-an”, maka itu bukan lagi “ ‘athaa-an” (pemberian).

Ulama-ulama berkata: kita itu dalam melakukan berbagai macam kebajikan sebenarnya bukan untuk Tuhan. Melainkan sebenarnya adalah untuk diri kita. Kalau seperti itu, kita perlu imbalan atau tidak? Ya, tidak perlu imbalan, karena semua kebajikan itu kita lakukan untuk diri kita sendiri.

Kalau demikian, apa artinya imbalan di sini? Karena Tuhan menjanjikan untuk memberi sesuatu, maka “jazaa-an” itu adalah imbalan yang diberikan akibat janji Tuhan terhadap makhluk-Nya. Bukan akibat kerja (amal) kita sebagai makhluk-Nya. Janji Tuhan atau imbalan yang dijanjikan Tuhan ini diberikan kepada makhluk-Nya, dan pemberian-Nya itu dan apa yang makhluk-Nya terima itu adalah anugerah, bukan imbalan. Jadi, imbalan-Nya berkaitan dengan janji, bukan berkaitan dengan amal kita.

Dalam sebuah hadits disebutkan: Rasulullah berkata, “Bahwa tidak ada yang masuk surga karena amalnya.” Lalu sahabat bertanya, “Kamu juga ya Rasulullah?” dijawab Rasulullah, “Ya, saya juga, kecuali kalau Allah menganugerahkan rahmat kepadaku.”

Waktu kita membaca tentang penghuni neraka, dikatakan bahwa “jazaa-an wifaaqaa” (sebagai pembalasan yang setimpal). Kalau untuk penghuni surga dikatakan: “jazaa-an min rabbika ‘athaa-an hisaabaa”. Kalau untuk penghuni neraka hanya dua kata, yaitu “jazaa-an” dan “wifaaqaa”. Sedangkan untuk penghuni surga adalah: “jazaa-an”, “min rabbika”, “ ‘athaa-an hisaabaa”.

Jazaa-an min rabbika” (dari Tuhanmu), yaitu apa yang kita terima itu semuanya bersumber dari Allah. Sedangkan apa yang diterima oleh penghuni neraka adalah bersumber dari dirinya sendiri, bukan dari Allah. Inilah bedanya. Apa yang kita tanam, buahnya kita terima di sana. Dan buah yang kita terima itu tidak lebih dari apa yang kita tanam di dunia. Kalau apa yang kita terima dari surga sumbernya adalah dari Allah. Sesuai atau tidak? Malahan mungkin berlebihan, yaitu “Anugerah yang cukup banyak”

hisaabaa” artinya cukup, tidak butuh yang lain lagi. “hasbi Allah” artinya cukuplah Allah saja, tidak perlu yang lain.

Ada sebuah doa: hasbi su-aalii ilmuhu bihaalii, yang artinya “cukup saya tidak perlu meminta, karena saya mencukupkan bahwa dia tahu keadaan saya.”

Jadi, yang pertama “hisaabaa” itu artinya cukup. Yang kedua, “hisaabaa” artinya yang disiapkan. Ganjaran yang diterima seseorang dari Allah Swt sudah disiapkan oleh Allah Swt. Apa yang dilakukan oleh manusia itu terhitung oleh Allah Swt ganjarannya. Ada yang dapat 10 kali lipat, ada yang dapat 700 kali lipat, bahkan ada yang dapat tidak terhingga jumlahnya.

Iklan

Penulis: Siti Muhaira

Ana Muslim, lahir di Kota Hujan pada bulan Muharram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s