Paskibra Kini Tinggal Kenangan

Dua hari yang lalu tepatnya tanggal 17 Agustus 2013 adalah hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-68. Tak disangka negeri khatulistiwa ini sudah berusia lebih dari setengah abad. Sebagian masyarakat di negeri ini berbondong-bondong merayakannya. Bendera merah putih tersebar di sepanjang jalan dan rumah warga. Berbagai perlombaan diselenggarakan di setiap daerah guna memeriahkan hari itu. Upacara bendera dilaksanakan baik oleh pelajar, pegawai dan pemerintah. Tahun ini Indonesia memperingati dan mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah berjuang memerdekakan negeri ini.

Penulis sempat melihat serangkaian upacara bendera lewat layar kaca. Tahun ini upacara diselenggarakan di Istana Merdeka. Anggota Paskibraka (Pasukan pengibar bendera pusaka), Polisi, dan petugas lain telah berbaris dengan rapi. Pak SBY beserta pejabat pemerintahan duduk di bawah tenda. Tak ketinggalan tim Marcing Band dan Paduan suara telah bersiap.

Melihat Paskibraka berjalan rapi dan serempak penulis jadi ingat waktu SMP. Waktu kelas 7, penulis sempat bingung memilih ekstrakulikuler di sekolah. Saat itu yang wajib diikuti oleh siswa ada tiga pilihan yaitu PMR, paskibra dan pramuka. Sedangkan futsal, basket, bulu tangkis, karate, taekwondo dan lainnya tidak masuk dalam kategori wajib.

Di antara tiga pilihan itu sebenarnya tidak ada yang penulis suka. Tetapi mau tidak mau penulis harus memilih. Finally penulis memilih paskibra alias pasukan pengibar bendera. Alasan memilih itu karena sebelumnya penulis pernah melihat video kakak saat mengikuti perlombaan paskibra antar sekolah di Bogor. Penulis lihat anggota paskibra itu keren. Penulis suka gerakan baris berbaris yang mereka lakukan. Kakak juga telah beberapa kali memenangkan perlombaan. Dari situlah muncul keinginan untuk menjadi anggota paskibra.

Selama menjadi anggota paskibra banyak hal yang penulis alami dan rasakan. Saat masa orientasi adalah hal yang tak akan pernah dilupakan. Di mana saat itu penulis harus melalui berbagai rintangan dan tantangan yang menuntut kerjasama. Rela kotor-kotoran, dijahili dan dimarah-marahi oleh senior, disiram air dan dan masih banyak lagi. Saat itu penulis merasa kesal dan lelah. Tapi jika penulis tidak melewati rintangan itu, penulis tidak akan resmi menjadi anggota. Akhirnya setelah masa orientasi selesai, penulis dilantik dan telah resmi menjadi anggota.

Dalam menjalani masa latihan, kedisipinan menjadi hal utama yang harus dimiliki oleh setiap anggota. Usai mengikuti KBM di sekolah, penulis harus latihan. Dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore penulis berada di sekolah. Di bawah terik matahari jam satu siang, penulis rela membiarkan kulit lengan tersengat, berbaris dan mengikuti gerakan yang diajarkan senior. Waktu istirahat di rumah bersama keluarga terpaksa penulis relakan.

Apalagi saat seleksi untuk lomba, penulis dituntut untuk mengingat dan melakukan dengan baik semua gerakan yang telah diajarkan. Waktu pun tersita kembali. Tapi saat itu penulis bertekad agar bisa terpilih. Bisa mengikuti lomba, menjadi juara dan membanggakan sekolah dan orang tua adalah keinginan penulis saat itu. Apalagi menjadi anggota PASUS (Pasukan khusus) dan Paskibraka yang mengibarkan bendera pusaka adalah cita-cita penulis saat itu.

Memang awalnya penulis merasa nyaman menjadi anggota paskibra. Tapi lama-lama kejenuhan mulai penulis rasakan. Penulis merasa lelah oleh organisasi ini. Para angota tidak lagi solid. Karena kesibukan para pelatih menyebabkan kami jarang latihan. Acara rapat pun tak jelas dan menyia-nyiakan waktu. Organisasi pun tidak lagi satu rasa dan satu tujuan. Dari situlah penulis mulai memikirkan untuk berhenti dari organisasi ini.

Saat itu banyak juga anggota yang keluar. Mungkin karena perasaan yang sama. Tapi setiap kali penulis memutuskan untuk berhenti, ada perasaan sedih dan kasihan. Jika penulis berhenti, anggota akan semakin berkurang dan organisasi ini akan semakin menyedihkan. Semua waktu, tenaga dan pengorbanan penulis akan sia-sia. Akhirnya, penulis memutuskan untuk bertahan. Tapi jujur, penulis tak pernah mengikuti ajang lomba. Hehe. Paskibra yang dibanggakan oleh warga sekolah kini tak lagi terdengar. Piala dan tropi tak bertambah seiring dengan penulis lanjut kelas 8.

Sebenarnya jika sekolah mengizinkan, penulis tidak akan mengikuti ekstrakulikuler. Tapi itu tidak mungkin. Sekolah ingin mengkader siswanya agar memiliki karir cemerlang di masa depan. Huuft..

Lama-lama penulis mulai terfikirkan tentang semua yang telah penulis lalui selama menjadi anggota. Untuk apa semua pengorbanan itu? Penulis mulai menimbang kembali cita-cita penulis saat itu. Menjadi anggota paskibraka apa untungnya? Mungkin hanya ketenaran saja. Penulis merasa semua itu hanya sia-sia. Menghabiskan banyak waktu untuk hal yang sebenarnya bukan sesuatu yang penting. Berdiri di bawah terik matahari hanya untuk mengibarkan bendera? Apakah hal itu perlu dilakukan? Hufft…

Pada akhirnya penulis mengganti cita-cita dan tidak mau berurusan dengan paskibra dan bendera lagi. Apalagi setelah mengetahui mengadakan upacara bendera sama seperti menyembah bendera itu. Iyuuuh!! Nggak rela! Kita kan cuma menyembah kepada Allah Swt. Tidak yang lain. Penulis jadi menyesal waktu itu. Lebih baik dan lebih bagus adalah giat beribadah kepada Allah Swt dan mengamalkan ajaran-Nya. That’s right!

Kini setelah penulis lulus dari sekolah, semua saat-saat menjadi anggota paskibra tinggalah kenangan.

Iklan

Penulis: Siti Muhaira

Ana Muslim, lahir di Kota Hujan pada bulan Muharram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s