Saling Menasehati

66

Assalamu’alaikum Wr. Wb…

Saling menasehati antar sesama manusia merupakan kewajiban kita bersama. Memberi nasehat kepada saudara, teman bahkan kepada orang yang lebih tua. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk saling memberi nasehat. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam keadaan kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menepati kesabaran. ( QS. Al-Ashr : 1-3).

Begitu pentingnya saling menasehati kepada sesama. Beramar ma’ruf nahi munkar. Misalnya, ada teman kita yang berbuka puasa bukan di waktunya. Misalnya di siang hari. Padahal ia sehat dan mampu untuk berpuasa sampai waktu berbuka tiba. Maka kita harus menasehatinya. Kita jelaskan bahwa berpuasa di bulan Ramadhan itu wajib bagi orang yang sehat. Kecuali jika ia sakit.

Saling menasehati dalam kebenaran memang harus digalakkan. Nah, bagi yang dinasehati seharusnya berterima kasih kepada orang yang telah memberi nasehat. Karena ia telah memberitahu apa kesalahan kita. Hanya saja hal ini jarang terjadi. Pada umumnya manusia tidak suka disalahkan apalagi kalau dinasehati dengan cara yang tidak baik.

Oleh karena itu, seorang pemberi nasehat haruslah mengetahui metode yang baik agar nasehatnya dapat diterima oleh orang lain.

Imam Ibnu Hibban berkata, Nasehat itu harusnya dilakukan dengan cara rahasia tanpa diketahui oleh orang lain. Karena dengan cara itu akan melanggengkan kasih sayang dan menyebabkan terealisasinya ukhuwah.

Imam Syafi’i dalam sebuah syair berkata:
Hendaklah engkau sengaja mendatangiku untuk memberi nasehat ketika aku sendirian
Hindarilah memberi nasehat kepadaku ditengah khalayak ramai
Karena sesungguhnya memberi nasehat dihadapan banyak orang sama saja dengan memburuk-burukkan, saya tidak suka mendengarnya
Jika engkau menyalahi saya dan tidak mengikuti ucapanku maka janganlah engkau kaget apabila nasehatmu tidak ditaati.

Namun, pada kenyataannya nasehat tidak hanya disampaikan secara rahasia. Ada kalanya nasehat itu disampaikan di hadapan banyak orang atau khalayak umum. Contoh kecilnya, seorang guru memberi nasehat kepada murid-muridnya agar tidak menyontek saat ujian. Jadi, menasehati itu sebenernya tidak hanya disampaikan secara rahasia. Ini tergantung kondisinya. Misalnya, memberi nasehat di hadapan banyak orang dengan tujuan mencegah keburukan. Itu juga boleh. Walaupun ada pendapat yang mengatakan lebih baik disampaikan secara rahasia.

Nah, jadi cara yang baik untuk menasehati adalah disampaikan dengan perhatian, penuh kasih sayang, dan kesabaran. Terutama kepada orang yang lebih tua.

Rasulullah Saw saja ketika menasehati anak kecil dengan lembah lembut. Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah r.a, ia berkata, “Saat aku masih kecil, aku bermain di rumah Rasulullah. Tanganku pada saat itu berbuat tanpa aturan ketika hendak makan. Lalu, Rasulullah berkata kepadaku, ‘Wahai anak muda. Sebutlah nama Allah, makan dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang cocok denganmu.’ Pada saat itu, cara makanku masih seperti dahulu (yakni tidak sesuai dengan aturan yang dianjurkan Rasulullah)”(HR Bukhari)

Jangan sekali kali menganggap nasehat dari orang lain sebagai satu hal yang negatif dan di pandang sinis. Apalagi jika itu memang baik untuk kita.

Sesungguhnya menyampaikan dengan penuh perhatian kepada saudara sesama muslim adalah kritik yang membangun. lebih besar kemungkinannya untuk diterima oleh orang lain.

By: Siti Muhaira

 

 

Iklan

Penulis: Siti Muhaira

Ana Muslim, lahir di Kota Hujan pada bulan Muharram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s