Rahasia dibalik lezatnya Dodongkal

dodongkal
dodongkal

Apakah kalian pernah mendengar makanan tradisional yang bernama dodongkal? Kue dodongkal? Saya rasa kalian masih asing dengan nama makanan yang satu ini. Apa itu dodongkal? Bagaimana rasanya? Terbuat dari apa? Asalnya dari mana? Dan bagaimana cara membuatnya? Mungkin itulah segelintir pertanyaan yang ingin kalian ketahui jawabannya. Nah, agar kalian tidak penasaran berikut ini saya akan menjelaskannya.

Dodongkal adalah kue tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Dibuat dengan bahan dasar berupa tepung beras, gula aren, dan parutan kelapa. Cara membuatnya yaitu :

  1. Siapkan alat pengukus berbentuk kerucut (di Sunda disebut aseupan) yang terbuat dari anyaman bambu. Juga seeng. Didihkan air hingga mengeluarkan uap yang banyak. Agar wangi bisa ditambahkan daun pandan.
  2. Letakkan aseupan di dalam seeng. Ingat, aseupan diletakkan dalam posisi berdiri, ya!
  3. Campurkan 1/2 butir kelapa parut dengan tepung beras, tambahkan air garam, lalu diaduk.
  4. Tambakan beberapa lembar daun pandan di dinding kukusan.
  5. Kemudian sendokan gula merah, tepung beras secara berselang-seling sampai habis. Gula merah disendokan jangan terlalu tebal tapi tipis. Sedangkan lapisan tepung beras disendokan tebal-tebal.Lapisan tepung terakhir dikumpulkan ditengah. Jangan melebar ke pinggiran kukusan bambu. Kemudian tutup dengan daun pisang. Selain daun pisang tutup juga dengan tutup panci. Lalu dikukus.

5 menit kemudian dicek, ya! Lihat apakah sudah padat menyatu atau belum. Jika belum berikan waktu 5 menit lagi dan cek kembali. Setelah matang,  kita angkat lalu tumpahkan diatas tampah atau baskom besar. Nah, dodongkal yang ditumpahkan itu akan berbentuk kerucut. Lucu kan?

Cara penyajian dodongkal itu sendiri bukan langsung dimakan dalam keadaan masih berbentuk kerucut loh. Tapi dipotong-potong dan disajikan diatas daun pisang. Bukan hanya itu, dodongkal pun ditaburi dengan kelapa yang sudah dikukus. Rasa manis dan gurih yang berasal dari gula aren dan taburan kelapa kukus akan menyatu di lidah. Ditambah wangi yang berasal dari daun pisang. Dodongkal juga sangat nikmat loh apabila disantap selagi hangat, ditemani teh atau kopi. Membuat lidah seakan ingin mencicipi terus kelezatan dari dodongkal ini. Hmm, yummy!

Oh ya, Apa kalian tahu? cita rasa dodongkal itu lahir tidak hanya dari bahan-bahannya loh. Tapi dari alat memasaknya juga . Apa alatnya? Ya, itu tadi menggunakan aseupan dan seeng. Seeng merupakan alat pengukus tradisional Sunda. Umumnya berbentuk dandang, namun bagian tengahnya meramping sementara bagian leher dan dasarnya lebih lebar. Dengan bentuk seperti ini, uap yang dihasilkan bisa tetap berada di dalam dandang sehingga dodongkal senantiasa hangat.

kukusan-aseupan
alat pengukus tradisional

Saat ini keberadaan dodongkal sangat langka dan sulit sekali ditemukan bahkan hampir dilupakan keberadaannya seiring berjalannya waktu dan kemunculan makanan-makanan modern. Di Jawa Barat sendiri yang menjualnya hanya di beberapa kota saja, seperti Cianjur dan Bogor. Hmm, kalau soal harga bervariasi. Ada yang menjualnya Rp. 1000 per buah ada juga  yang menjual dengan harga Rp. 2000 per tiga buah. Sangat murah bukan? Ya, Murah, lezat, dan menyehatkan.

Apakah  anda penasaran ingin mencoba jajanan tradisional khas Jawa Barat ini? hmm, nampaknya anda harus teliti dan bersabar dalam mencari karena keberadaannya yang sulit ditemukan. Namun jika sulit menemukannya, anda bisa mencoba membuat kue  ini di rumah karena proses pembuatannya yang tidak rumit. Selamat mencoba!

Iklan

Penulis: Siti Muhaira

Ana Muslim, lahir di Kota Hujan pada bulan Muharram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s